FF ZigZag [Part 3]

zzi

Author             : Mocha

Cast                 : Amber  Liu (Fx) , Henry (Suju-M),Key (Shinee),Kris (EXO)

Warning          : typo dimana”, gaje,abal-abal, sangat memalukan, sediakan alat bantu     pernafasan.

.

.

                Aku bermimpi. Ketika terbangun dan membuka mata, aku melihat ada seorang lelaki berada tepat dihadapanku. Ia menatap diriku manis dengan senyuman khasnya, tangannya membelai rambutku lembut takkala menyelipkannya di belakang telingaku. Aku tersenyum kepadanya juga dan mengelus wajahnya. Aku tahu ini hanya mimpi. Aku kembali menutup mataku

.

Senyumlah, tinggalkan sedihmu. Bahagialah, lupakan takutmu. Sakit yang kamu rasa, tak setara dengan bahagia yang akan kamu dapat.

.

            Saat ini Amber sedang melepas kembali perban yang melekat pada tubuh Henry dan kembali memasang perban yang baru. Amber merasa, ketika ia melihat wajah Henry ia seperti ada melupakan sesuatu. Entah itu apa. Amber susah mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi. Ternyata Amber telah melupakan kejadian semalam

Bagaimana dengan Henry? Ia takut Amber akan mengungkit kejadian semalam. Tapi Amber terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apapun diantara mereka. Tidak seperti Henry yang sekarang terlihat canggung ketika Amber melilitkan perban dibadannya. Ia hanya menunduk dan sesekali menatap wajah Amber

‘apa ia melupakan kejadian semalam’ pikirnya dalam hati sambil terus menatap wajah Amber. Untung saja semalam ia bisa menahan diri, tidak lebih dari sekedar bercumbu. Kalau lebih dari itu, entah apa yang akan terjadi nanti

“ada apa melihatku seperti itu!” ucap Amber ketus karena ia risih diperhatikan seperti itu. Lagi-lagi ketika ia menatap Henry seperti ada hal penting yang terlupakan

“ti..tidak apa-apa” elak Henry sambil menundukkan kepalanya menatap ke-lantai. ‘padahal baru tadi pagi dia tersenyum padaku’ batin Henry. Hal itu memang bukan sebuah mimpi melainkan sebuah kenyataan. Henry sangat tidak menyangka atas perlakuannya tadi pagi, dan sangat teramat tidak percaya Amber tersenyum padanya dan mengelus wajahnya. Namun bagi Amber itu hanya sebuah mimpi dan tidak mempersoalkan mimpi yang sebenarnya adalah kenyataan itu

“habis makan aku ingin berbicara denganmu” Amber berkata setelah melakukan rutinitas barunya, yaitu mengobati luka Henry. Ia beranjak dan berjalan menuju tempat masak. Mengembil mie lalu merebusnya

Henry tak menjawab. Dia kembali diam. Menyaksikan Shin yang sedang bermain bersama botol susunya. ‘Kasian dia tidak punya mainan’ pikirnya, ia meresa ingin membelikan Shin mainan yang layak. Tapi apa daya ia tidak mempunyai uang dan pekerjaan. Ia hanya bisa berharap pada Amber

.

.

Amber mengambil meja kecil. Menaruh panci yang berisi mie diatasnya. Henry pun sudah berada didepan meja, ia Memberikan Henry mangkuk dan sumpit. Henry menyambut pemberiannya, memasukan mie kedalam mangkuk lalu memakannya dengan lahap. Tapi Henry melihat Amber tidak makan. Ia malah menyuapi Shin dengan serius. Amber terlihat lucu sekali, menyuapi Shin dengan sangat serius seperti melakukan sebuah penelitian penting

“makanlah dulu “ Henry berkata sambil menunjuk kearah mie dengan sumpitnya

“dia belum makan!” sahut Amber masih menyuapi Shin dengan serius. Sekarang, inilah tanggung jawabnya. Ia berucap tanpa menghadap kelawan bicaranya

“……” diam. Henry memilih diam saja dan meneruskan sarapannya

Henry masih sesekali memperhatikan Amber yang sangat serius sekali menyuapi Shin dan Anehnya Shin tidak pernah menangis lagi jika bersama Amber. Henry tidak mengerti tentang hal itu, dan juga ia begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan Amber padanya. Apakah Amber akan mengusirnya atau berbicara tentang hal semalam dan tadi pagi. Lagi-lagi Henry melamun dan asik dengan pikirannya sendiri

“aku ingin berbicara padamu”

Tiba-tiba Amber sudah berada dihadapannya. Henry pun tersadar dari lamunannya. Ia sedikit melirik Shin

“a.. ada apa” Henry terlihat tegang dan takut. Takut yang dipikirnya itu akan terjadi

“bantu aku merawatnya untuk beberapa waktu kedepan dan jika kau sudah merasa bosan disini kau bisa pergi. Hanya satu permintaanku padamu. Tetaplah bersamaku, bantu aku merawatnya” terang Amber langsung pada intinya

‘tetaplah bersamaku’ Henry ingat kata-kata itu. Kata-kata yang keluar dari mulut Amber semalam. Jadi maksudnya adalah ini. Tapi kenapa jantungnya jadi berdegup lebih kencang ‘ada apa denganmu Henry’ batinnya.

Amber manatap lurus diri Henry. Henry pun membalas tatapan itu dengan canggung. Ia merasa senang masih diberikan kesempatan untuk tinggal bersamanya

“baiklah” ucap Henry pasti dengan memasang senyuman dibibirnya.

Setelah tahu jawaban dari Henry. Amber berdiri, beranjak untuk ketempat favoritnya, yaitu disamping lemari

“kau tidak makan?” Tanya Henry katika melihat Amber beranjak pergi tanpa menyentuh makanan yang berada didepannya

“tidak “ jawab Amber sambil duduk memeluk kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya

Henry bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia membiarkan saja makanan dimeja tanpa membereskannya karena Amber belum makan. Ia mendekati Shin dan bermain bersama

Amber melihat mereka. Ia sedikit merasa iri melihat mereka yang begitu akrab. Lama sekali ia tidak merasakan perasaan seperti ini

Henry melihat Shin yang terduduk dan memperhatikan Amber yang termenung. Anak manis itu merangkak kearah Amber memberi botol susunya pada wanita yang sedang termenung disana

”heh” Amber kaget, ia pun mengambil botol susu Shin. Lalu mencium pipi Shin lembut dan mengelus-ngelus pucuk kepala Shin. Ternyata Shin bisa membuatnya sedikit bahagia. Tapi Amber belum bisa mengekpresikannya. Ia masih canggung untuk tersenyum. Ia tersenyum hanya lewat mata

Disana, Henry tersenyum melihatnya. Ia merasa senang melihat pemandangan ini. Ia berharap Amber bisa tersenyum kepada Shin seperti senyumannya tadi pagi padanya. Henry mengingat hal itu menjadi aneh dan tersenyum sendiri.

.

“makanlah, ini sudah jam setengah 10” untuk kesekian kalinya Henry menyuruh Amber makan

“nanti saja” jawab Amber masih sambil memperhatikan Shin, tanpa menoleh kelawan bicaranya

“kenapa ?”

“aku tidak begitu terbiasa sarapan”

“kamu tidak pernah sarapan?”

“jarang”

“apa pencernaanmu baik-baik saja?”

“entahlah “ ucapnya dan akhirnya menatap kelawan bicaranya juga. Seketika itu juga ada hal yang membuat mereka berdua tak percaya

“mamma”

Amber memalingkan wajahnya ke Shin yang sedang memukul botolnya dikaki Amber. Shin tadi mamanggilnya mama? Apa Amber tidak salah dengar. Amber kaget dengan apa yang keluar dari mulut manis bayi mungil itu, begitu juga Henry

“pappa”

Mereka berdua saling menatap Shin yang sedang tertawa manis lalu mereka berdua saling beradu pandang, mencerna kata-kata pertama yang keluar dari mulut Shin. Mereka berdua begitu teramat kaget. Apa mereka berdua bisa disebut sebagai mama dan papa Shin? Mereka pun saling memalingkan pandangan mereka. Terlintas rasa yang aneh pada diri keduanya yang mereka sendiri tidak mengerti

“aku akan makan” Amber beranjak menuju meja kecil

Tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya terdengar tawa Shin yang pasti semua orang akan tersenyum padanya

.

Terkadang kita diberikan rasa kesepian yang mendalam, agar kita lebih menghargai indahnya kebersamaan

.

 

Sore Hari

 

“aku pergi “

Amber mengambil jaket kesayangannya, jaket berwarna abu-abu lusuh yang selalu setia menemaninya pergi

Henry bingung, ini masih sore dan Amber bekerja pada malam hari “mau kemana?” ia bertanya sambil mengipas-ngipas Shin yang sedang tertidur. Korea sedang mengalami musim panas

“ kesuatu tempat “ ia menutup pintu dengan perlahan takut membangunkan Shin

Henry tak dapat mengubris kepergian Amber ‘sebenarnya ia mau kemana?’ batinnya mengelus lebut pipi Shin. Ia sangat terlihat manis sekali saat tidur.

”ketika besar nanti kamu pasti akan menjadi seseorang yang tampan” ucapnya lirih pada Shin

Kembali dan kembali lagi Henry teringat kejadian semalam dan tadi pagi. Ia sama sekali susah untuk melupakan kejadian itu. Ia ingin menganggap kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Karena hal itu selalu membuatnya tidak tenang karena jantungnya akan berdetak tak karuan

.

Hidup hanya ada 2 sisi berbeda. Penderitaan dan Kebahagiaan, namun dari situlah kita menjadi kuat dan tegar

.

            Inilah tempat yang membuatnya lebih tenang. Melupakan sejanak semua masalahnya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Ia bersyukur masih diberikan waktu untuk hidup meskipun kehidupannya tidak menyenangkan. Ia selalu berdoa. Berdoa agar semua masalah yang datang bisa dihadapinya dengan tabah meskipun sangat susah. Juga berdoa agar ia bisa menerima Shin dengan Ikhlas hati

‘kuatkanlah Shin agar ia tidak sepertiku’ ucapnya dalam doa sambil menutup matanya

Gereja memang tempat yang membuatnya lebih tenang. Setiap minggu ia menyempatkan untuk berdoa. Ia datang pada sore hari karena ia susah untuk bagun pagi

Ia menangis dalam doa. Mencoba tabah dalam hidup. Meskipun susah menerima orang lain dalam kehidupannya

Disela doanya ada seorang lelaki menghampirinya. Lelaki itu duduk disampingnya yang masih berdoa sambil menutup matanya

“apa kau mempunyai masalah, Amber?” Tanya lelaki itu

Amber membuka matanya. Menengok kesamping, ia tahu siapa lelaki itu

“Pendeta” ucapnya melihat lelaki yang sedang mengenakan pakaian terusan khas seorang pendeta “tidak ada “ lirihnya

Lelaki yang disebutnya pendeta itu mengelus pucuk rambutnya

“jangan bohong Amber, terlihat jelas kalau kau mempunyai masalah”

“sedikit” terang Amber pada pendeta tersebut. Satu-satunya orang yang ia percaya. Pendeta inilah yang selalu membuat Amber bisa tabah dalam hidup dengan nasehat-nasehatnya. Amber sangat menghormati pendeta yang usianya sekitar 30 tahun ini yang membuatnya bersumpah untuk selalu mengabdi pada Tuhan

“percayalah Setiap masalah yang datang menyapa bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguji seberapa mampu kamu bertahan. Semangatlah Amber!”

Pendeta itu mengangkat tangannya memberi semangat pada Amber dengan sikap humorisnya. Hanya padanya lah Amber bisa tersenyum

“terimakasih. Aku akan pulang” ucap Amber sambil berdiri, pendeta itu pun berdiri mengikutinya

Pendeta itu mengantar Amber sampai didepan pintu gereja kemudian ia memeluk Amber hangat

“ingatlah, Tuhan akan selalu bersamamu” ucapnya melepas pelukan dirinya pada Amber

“terimakasih banyak pendeta “ Amber membungkuk. Ia lalu pergi meninggalkan pendeta yang humoris itu. Perasaan Amber terasa lebih lega

Diperjalanan pulang Amber merasa ada yang menepuk bahunya

“Amber!” panggil seseorang dibelakang sana

Amber menoleh kebelakang dan mendapati teman satu kerjanya telah berada dihadapannya

“anyonghaseo” sapa Amber sambil membungkukkan badannya. Lelaki itu pun membungkukkan badannya

“habis dari mana kamu Amber-shi?”

“Gereja” jawab Amber singkat

“ahh.. kalo aku habis berbelanja “

“hm..”

“oh ya, rumahku berada didekat sini. Apa kau mau mampir”

“maaf. Aku akan segera pulang “ tolaknya langsung pergi meninggalkan teman satu kerjanya itu. Lelaki itu pun terlihat kecewa

“memang susah mendekati wanita itu! “ lelaki itu berbicara sendiri lalu kembali menentang belanjaannya dan pergi

Sebenarnya Amber tidak ingat siapa nama lelaki itu. Entah namanya kiy kay atau apa. Ia benar-benar tak ingat. Namanya Key, Amber -_-“

.

.

Amber datang ketika matahari sudah terbenam dan dari luar rumah sudah terdengar jelas kalau Henry dalam kesusahan. Amber pun membuka pintu.

“akhirnya kau pulang juga. Tolong bantulah aku” pinta Henry

“oe..oe..oe..” Shin menangis sangat nyaring sekali. Shin menangis sajak sedari tadi, Henry bingung apa yang harus ia lakukan karena punggungnya sungguh terasa sakit. Berdiri saja ia tak sanggup. Bagaimana mengendong Shin

“ada apa” Amber menghampiri Shin

“ia terus menangis, tapi aku tidak bisa mengendongnya. punggungku terasa sakit sekali “ jelasnya

Denga sigap Amber menggendong Shin. Mencoba untuk menenangkannya “istirahatlah “ suruhnya menatap Henry yang sedang memegangi punggungnya

Henry balik menatapnya “ terimakasih “ ucapnya lalu merebahkan dirinya dengan tengkurap (?)

Amber sendiri pun membawa Shin keluar rumah agar ia bisa berhenti menangis dan menghirup udara yang lebih layak (?) dari pada udara didalam rumah. Usahanya pun tidak sia-sia, Shin mulai berhenti manangis. Amber menciumnya lalu membawanya masuk kedalam rumah

Ia melihat Henry yang sudah tertidur ‘mungkin ia lelah’ batinnya. Ia pun menaruh Shin ditilam lalu menatap lebut Shin “ aku… akan menjadi Ibumu” ungkapnya. Apa Shin mengerti ? karena ia tertawa mendengarnya

.

Kita menghargai hidup kita saat kita menghargai hidup orang lain

.

Kring kring

Bunyi pintu terbuka tanda bahwa ada seseorang masuk kedalam toko. Amber tidak memperhatikan siapa yang datang karena terfokus untuk menghitung uang

“nuna”

Amber mendongak. Siapa gerangan yang memanggilnya. Ia melihat sekitar tapi tak ada orang

“dibawah sini nuna”

Amber pun melihat kebawah didepan kasir. Ia melihat seorang anak laki-laki tersenyum padanya

“ah.. ada apa ?” ucap Amber bersikap untuk ramah pada anak kecil

“tolong ambilkan es cream itu “ tunjuk anak lelaki itu pada sebuah tempat es cream yang bentuknya cukup besar

Amber beranjak dari tempatnya

“ mau es cream yang mana?” Tanyanya ketika berada didepan tempat es Cream dan anak kecil itu berada disampingnya

“es Cream yang spongebob”

Amber mengambil sebuah es Cream sesuai yang dimintanya. Amber berjongkok menyesuaikan tinggi dengan anak tersebut “ini” Amber memberikan es Cream tersebut dan mengelus rambut anak lelaki itu lalu tersenyum padanya ‘aku harap aku juga bisa tersenyum pada Shin’ batinnya

“terimaksih nuna. Ini uangnya”

“tidak usah ambil saja”

“terimakasih banyak nuna”

Anak lelaki itu mengecup pipi Amber lalu berlari keluar toko. Amber memegangi pipinya lalu kembali ketempatnya tadi

Kring Kring

Bunyi suara pintu terbuka untuk kedua kalinya. Tepat setelah anak itu keluar dari toko

“anyeong Amber-shi”

‘dia sudah datang?’ Amber terheran. Menurutnya ada sesuatu yang janggal telah terjadi

“apa kamu melihat anak kecil baru saja keluar dari sini?”

“anak kecil? Aku tidak ada melihat. Mana ada anak kecil keliaran jam segini”

Amber langsung melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 23.30 pas. Ia terdiam beberapa saat’anak kecil tadi itu siapa?’ pikirnya. Tanpa sadar bulu kuduknya berdiri

“ada apa?” Tanya Key sambil mengerutkan dahinya

“tidak ada apa-apa”

“oh ya, aku datang lebih cepat karena boss menyuruhku untuk membuang produk yang sudah kadaluarsa”

“biar ku bantu “

“terimakasih”

Amber membantu Key mencari dan mengangkat barang-barang yang sudah kadaluarsa. Ia kembali teringat tentang anak lelaki itu.

.

.

            Henry terbangun. Perasaannya sekarang terasa lebih baik dibandingkan tadi. Berapa jam sudah ia tidur. Perlahan ia bangun dan melihat Shin yang juga tertidur disampingnya. Mungkin Amber yang menidurinya. Henry tersenyum manis kearah Shin

“apa yang harus kulakukan sekarang” ucapnya pada dirinya sendiri. Rasanya ia ingin berjalan-jalan keluar rumah, sudah berapa hari ia tidak menghirup udara segar. Karena itu ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar meninggalkan Shin yang sedang tertidur

Ia keluar. Menutup pintu dengan hati-hati

“aku hanya sebentar saja Shin” ucapnya meninggalkan Shin sendirian tanpa mengunci pintu

Ia berjalan-jalan. Menghirup udara segar dimalam hari. Perasaannya sungguh sejuk. Meskipun punggungnya masih sedikit merasa nyeri. Diperjalanan pun ada sesuatu yang menarik baginya

“apa itu Amber?”

Ia memperhatikan sebuah minimarket didepannya. Ia menengok kedalam memperhatikan seseorang yang dikenalnya

“siapa pria itu?”

Henry melihat Amber sedang dibantu oleh lelaki berparas manis membawa sebuah kardus besar. Entah apa yang ada didalamnya

“kenapa aku tidak senang melihatnya dengan pria itu, ini Aneh” lagi-lagi Henry berbicara pada dirinya sendiri

Tiba-tiba ada sebuah cahaya mengarah pada wajahnya yang membuatnya menutup wajahnya dengan punggung tangannya

“kau buronan itu!!” teriak orang yang berseragam lengkap dengan topinya sedang berpatroli malam

“sial!” umpat Henry seharusnya ia lebih hati-hati lagi. Dengan cepat ia langsung berlari

Seseorang yang bisa disebut sebagai polisi itu langsung mengejar Henry yang sudah berlari sambil memengangi punggungnya

“akan ku tangkap kau!”

Sedangkan didalam toko

“apa kau mendengar sesuatu?” Tanya Amber pada Key yang sedang mengangkat barang

“tidak ada. Kenapa?”

“tidak apa-apa”

Amber menoleh keluar, tadi ia ada mendengar orang bertriak tapi tidak ada siapapun diluar sana. Apa tadi ia salah dengar atau seperti kejadian seperti anak kecil itu. Entahlah ia memutuskan kembali bekerja saja

“pulanglah Amber, biar aku yang bekerja lagi”

Amber melihat jam dinding yang sudah menujukan puku 23.50

“pulang sajalah “ ucap Key lagi

“baiklah” Amber bergegas pergi dan mengambil jaketnya

“aku pulang. Sampai jumpa” Amber membungkukkan badannya. Key pun membalasnya

“sampai jumpa. Hati-hati dijalan ya”

“emm.. aku ingin bertanya padamu”

“nde?”

“namamu siapa?”

“Key nimmida, bukankah kemarin aku sudah memperkenalkan diri padamu?”

“aku lupa”

“ah.. begitukah. Kalau begitu hati-hati dijalan ya” Key menepuk bahu Amber pelan. Amber pun meninggalkannya didepan toko sendirian

“suatu perkembangan yang baik. Apa aku datang lebih cepat saja ya “ Key berucap sendiri sambil tersenyum menatap punggung Amber

.

Seseorang menangis, bukan karena ia lemah. Tetapi karena ia sudah terlalu lama kuat

.

            Sepanjang perjalanan perasaan Amber sungguh tidak enak ditambah lagi kejadian anak kecil tadi. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu  Shin

Setibanya dirumah. Amber membuka pintu. Matanya tercengang. Ia kembali keluar dengan wajah yang gelisah. Baru saja ia ingin bersamanya, kenapa ini terjadi. Ia berlari, mengelilingi daerah sekitar. Tiba-tiba ada yang memegang bahunya. Sontak ia langsung berbalik

“Henry”

Ia keget melihar Henry yang terengah-engah dan berkeringat. Henry melihat dengan samar-samar mata Amber yang berair ‘ada apa’ batin Henry. Henry merasa sangat lelah dan pusing. Ia merasa banyak sekali kunang-kunang didekatnya

“Shin hi..”

Belum selesai Amber berucap Henry sudah tak sadarkan diri dan jatuh memeluknya. Amber sudah tidak bisa menahan air matanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang

TBC

.

.

jangan lupa RLC ya ^^ saya butuh saran dan kritiknya

terimakasih 🙂

Iklan

24 pemikiran pada “FF ZigZag [Part 3]

  1. Oky

    Shin hilaaaaang.. Nooooo….. Omg… Siapa yg nyulik. Dan dan dan.. Anak kecil yg nyium pipi amber siapa…..??? Lanjuuuuuuut…….

  2. Aiiih itu bagian awalnya to tweet cekaleee…. x3
    Oalaa….makin bnyk misteri yg brmunculan.
    Ada setan kecil(?), shin ilang, henli pingsan (apa mati?) dan kemudian tebece ._.

  3. henry – amber – key waaa~ sebenernya henry buronan apa? .___.
    kenapa shin ilang ? apa hantu kecil itu shin? terus amber sama henry atau sama key? *oke abaikan
    harus lanjut mocha ^^

  4. Gaem

    itu yang minta ice cream siapa?
    shin kok hilang?
    amber nangis O_O
    henry pingsan O_O

    yaampun ._
    secepatnya dilanjutkan. penasaran ini .____.

    1. Kayanya masih lama.. Otak saya lagi ngadat ga ada inspirasi sma skali, juga bentar lagi mau US u.u
      maap ya reders

      wp pribadi? Ini wp pribadi saya tapi sdh beralih fungsi hehe. Ada lg sih satu tapi blogspot?
      Kenapa ya? 😀

  5. Shin hi.. Hilang? Shin hilang? Siapa shin? Lanjutan nya ya.. Ditunggu. Aku baru baca part ini. Aku akn lanjutin baca, part yg sblumnya. Boleh ya? Mian, tiba2 langsung nyelonong. Ga permisi dulu, ga sopan ih, ma’f.. Salam kenal ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s