[Freelance] This Is (Episode 1A)

Author : Alpaca Ajol

Cast : Baca aja!

Genre : Baca aja ih

Rate : Maunya?

Di bilangin baca aja ya baca aja!

¤

“Ayo berangkat, nanti kau terlambat.” Chanyeol yang sudah melahap habis roti isi selai coklatnya bangkit duluan. Dia mengahabiskan setengah susu di gelasnya dengan cepat. Tapi saat dia ingin bergerak untuk benar-benar mengakhiri sarapannya. Orang di depannya bersuara.

“Mmm sebenarnya aku…aku tidak satu sekolah dengan mu.” Chanyeol mengernyitkan dahinya, bukan karena suara Amber yang terdengar mendengung karna mulut di depannya memang tak berani mengerahkan segenap tenaga untuk bicara. Terlalu takut sepertinya.

“Hah?” Chanyeol butuh penjelasan lebih.

“Aku tidak di terima di Sekolah mu, jadi aku masuk ke pilihan kedua.”

“Pilihan keduanya?” Semoga ini tidak sama dengan apa yang Chanyeol pikirkan.

“SMA Doojon.” Amber sukses membuat mulut di depannya nganga to the max, dia tahu reaksi apa yang akan Chanyeol keluarkan maka dari itu wajahnya tak sesenti pun bergerak. Tetap kekeuh menatap taplak meja di bawah piringnya.

“Kenapa kau baru bilang sekarang hah?”
“Aku..aku..” Stop! Chanyeol sudah tau alasan kenapa Amber tergagap.

“Ada begitu banyak SMA di Seoul, kenapa harus SMA Doojon sih?! Aiiisssh aku tak apa kau tidak satu sekolah dengan ku. Tapi kenapa pilihan kedua mu SMA DOOJON?!!!” Dia tak bisa menahan diri untuk tidak nyerocos sampai muncrat sekarang. Tanpa melihatnya pun Amber sudah bergidik ngeri. Seperti ini adalah petaka besar. Ah benarkah?

“Aku bingung, SMA favorit disini kan hanya SMA mu dan SMA Doojon, jadi aku putuskan SMA Doojon jadi pilihan kedua ku. Aku terlalu yakin akan di terima di SMA mu, eh tapi ternyata.”

Chanyeol menghela nafas, memejamkan matanya hanya untuk menahan emosi seperti gunung yang akan menyemburkan larvanya sekarang juga. Ditatapnya rambut Amber, karna hanya itu yang terlihat matanya. Perasaannya campur aduk. Nasi sudah kematangan. Walaupun alasannya berbeda, tidak mungkin Amber nganggur lagi setahun hanya karna dia tak mau Ambernya masuk ke sekolah itu, sekolah yang. “Cepatlah berangkat, nanti kau terlambat. Hari pertama pasti menyenangkan.” Chanyeol mengacak-acak rambut Amber sebelum melangkah meninggalkan meja makan dan ruangannya.

“Satu hal. Mulai sekarang kau harus berjaga jarak dengan ku. Dan” Amber melirikan matanya melihat Chanyeol yang sudah di ambang pintu keluar. Membalikan badannya hanya sekedar menambahkan sesuatu “Jangan beritahu siapapun kau adalah adikku.”

“Aku mengerti.” Amber menghela nafas, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi makan di belakangnya setelah yakin Chanyeol sudah menghilang di balik pintu.

“Amb…” Tangan yang sudah terkepal siap memukul daun pintu itu mengambang begitu saja. Pintunya sudah di buka dari dalam.

“Oh Luna?” Keluarlah sosok tinggi nan tampan, diam, menunduk melihat dari mulai sepatu, rok hitam selutut dan kemeja yang di gulung lengannya. Untuk apa Luna nongol disini kalau bukan. “Kau masuk SMA Doojon juga?” Chanyeol harus memastikan. Luna cuma mengangguk. Chanyeol kembali menghela nafas, takut tiba-tiba dia lupa cara bernafas, kan gawat.

“Masuklah, Amber ada di dalam.” Chanyeol meneruskan niatnya pagi ini untuk berangkat ke kerajaannya. Luna melesat masuk dengan pertanyaan yang sudah dia siapkan jika bertemu dengan.

“Ambeeer!” Amber menyampirkan tas bergambar bendera inggris itu sampai menutupi pantatnya. “Kau terlihat aneh dengan rok itu.” Luna berkomentar sambil menunjuk rok Amber yang memang terlihat aneh. Yang aneh bukan roknya tapi wajah Amber yang terlihat tidak pantas memakai setelan bernama rok. Maskulin dan tampan plus rambut super pendeknya. Pokoknya aneh deh, coba kalian bayangkan sendiri saja Amber pakai rok?

“Sudah deh, kalau di Korea ada SMA yang boleh berpakaian bebas, aku sudah berada di sana sekarang. Mau home schooling tapi biaya tak menyanggupi.” Amber mendengus.

“Oh iya Chanyeol Oppa kenapa? Kau baru mengatakannya?” Itulah pertanyaan yang tadi terpending gara-gara komentar Luna tentang rok Amber. Amber mendengus lagi kali ini dengan anggukan lemas.

“Sudah ku bilang katakan sejak dulu.”

“Aku terlalu takut.”

¤

Luna dan Amber sedikit berlari menuju gerbang SMA Doojon. Untung belum di tutup. Beberapa menit lagi upacara ospek akan dimulai. Kalau terlambat pasti malu banget. Tidak! Kesan pertama tidak boleh jelek. Mereka lalu baris paling belakang karena murid baru lainnya sudah dalam barisan.

Beberapa menit berlalu.

Hap

Sepasang sepatu sukses mendarat di antara rerumputan liar. Ini memang hari pertama tahun ajaran baru. Harusnya bebas dong? Tapi Sekolah ini lain. Mau hari pertama, hari kedua, hari terakhir, bahkan hari kiamat? Sekalipun tetap harus tepat waktu. Rempong yey.

Kris melangkahkan kakinya santai. Meninggalkan pagar besi yang baru saja di lompatinya. Bukan menghidari satpam di gerbang. Cuma dia terlalu malas kalau sarapannya celotehan satpam itu. Lebih baik ia sara-perempu-an. Dia berjalan seakan sekolah itu punya mbahnya. Ah sepi ini. Motornya yang tiba-tiba minta di manja sudah terpajang manis di bengkel sejak kemarin. Itu mengharuskan dia naik bis pagi ini. Sialnya bis yang harusnya tetap waktu malah ngaret. Salah deng, jam Kris yang ngawur pagi ini. Atau krisnya? Ah sudahlah.

“Upacara ospek ya? Ah jalan menuju kelasku kan harus lewat sana. Malas sekali menunggu upacara selesai.” Kris tetap melenggang dengan pedenya. Dia ikut menyesakkan diri di antara seragam hitam putih murid-murid baru.

“Apa lihat lihat hah?!” Bentakannya sukses membuat bulu kuduk mereka berdiri hanya karna menatap sang kakak kelas yang menyikut minta di beri jalan. “Minggir-minggir.” Kris sudah bebas dari kerumunan panjang. Tapi,

“KRIS!” Sang Guru yang berdiri Agung di atas podium menghentikan kegiatannya. Seakan-akan sambutan yang tadi di sampaikannya sekarang berganti menjadi sambitan. Kris terus berjalan sambil mengangkat satu tanganya. Memberi salam ala-ala anak gaul. “KRIS WU!!!” Si Guru berteriak tak kalah gaul. Menurut Kris gaungan Guru itu malah mirip konser band death metal. Old metal!

“Ada apa Pak? Bapak mau aku memberikan sambutan juga kepada adik-adik kelas ku?” Tanpa menunggu jawabanya Guru kesayangannya. Kris sudah berbalik menghadap murid-murid baru yang cengo dengan tingkah berani Kris. “Terima kasih kepada Pak Hyuk Jae atas kesempatan emas yang telah di berikan kepada saya untuk berorasi di depan kalian adik-adik kelasku.” Kris menyeringai. “Sambutan saya tidak panjang atau lebar. Hanya satu pesan dan kesan saya, jangan bosan-bosan kalian masuk ke ruang BP. Itu sangat menyenangkan karena kalian akan di sambut dengan suara merdu Pak Hyuk Jae di iringi degung alternatif. Dan jangan lupa.” Kris mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. “Kusaran kan kalian untuk tidak bergoyang di sana.” Dia tertawa pelan lalu melirik Gurunya yang sudah terlihat seperti banteng mendengus mau nyeruduk. Kris sudah kebal dengan tatapan itu. Di memilih melanjutkan perjalannyanya, namun

BRUK!!

Tubuh tinggi itu mendarat sempuranya ke aspal lapangan. Murid-murid, dan panitia ospek menggembungkan pipi mereka menahan tawa. Wajah Kris sekarang lebih menyeramkan dari banteng Pak Hyuk Jae. Kris menjelma menjadi Naga dengan hidung berasap. Ditatapnya botol minum di kakinya. Taring seakan muncul saat Kris menggertakan giginya dan melirik satu-satu murid bari di sampingnya.

“TEMPAT MINUM SIAPA INI?”

Beberapa menit silam.

“Ah kenapa panas sekali sih.” Amber tak henti-hentinya mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajahnya menyuruh angin untuk menyentuh pipinya. Matahari mulai naik. Dia tak sadar suasana bahkan lebih panas dari apa yang ia rasakan sekarang. Luna focus pada apa yang ada di depannya. Matanya poll pada satu titik di depan dengan tingkahnya.

“Amber! Amber!” Tangan Luna bergerak tapi tak di iringin matanya yang tetap stuck melihat ke depan. Alhasil Amber yang sedang mengairi tenggorokannya tersentak. Tempat minum lonjong itu menggelinding bebas ke depan karena tak sempat di tangkap saat masih terbang karena kekagetan Amber oleh tangan Luna.

BRUK!!

“TEMPAT MINUM SIAPA INI?!!!” Amber tercekak. Kesan pertama yang ia harapkan akan indah ternyata yaaah.

“TAK ADA YANG MENGAKU HAH?!!” Kalau sudah begini Pak Hyuk Jae pun kalah. Tepatnya mengalah. Dari pada gosong di sembur mending diem ajalah. Tangan Amber bergetar saat di angkatnya ke atas. Kris menyungginkan senyumnya. “Maju!” Mati loooo Ambeeeeer.

Perasaan Amber dia sudah maju, tapi kenapa dia masih di situ, masih berada di samping Luna yang ikut shock. “KUBILANG MAJU! KAU TULI HAH!” Amber sukses melangkahkan kakinya cepat ke depan. Sampailah dia di depan Kris. “Ini punya mu?” Kris menunduk mencari wajah Amber yang tenggelam di alam takutnya. Di sekolah ini memang tak ada ospek jahat seperti di SMA-SMA yang kebanyakan ia tonton di tv. Tidak seperti ospek-ospek dengan pita sana-sini, kaos kaki beda sebelah, tali sepatu beda warna. Emangnya SMA di Indonesia. Ini Korea coy. Amber mengangguk pelan.

“Buka sepatumu.” Kris lebih santai sekarang. Tangannya mengadah di depan wajah panas Amber. Amber mencopot sepatunya satu-satu pelan-pelan. Kris menerima dengan jahat hati. Di ikatnya tali sepatu itu satu sama lain. Dia celingukan ke atas. Dan

“Sip! Haha.” Amber mangap ketika sepatunya mantap nyangkut di dahan pohon beringin di atasnya. “Kalau ada dari kalian yang membantunya mengambilkan sepatu itu..” Kris tidak melanjutkan dengan kata-kata, tapi kedua tangannya di gerakkan di depan lehernya. Semua menelan ludah. Kris menang berlalu sambil berdendang kecil. Amber mendengus meratapi sepatunya berlebel layangan nyangkut sekarang. Pak Hyuk Jae angkat tangan. Menyerah!

¤

“Adikmu yang bernama Amber itu mana? Katanya dia masuk SMA ini kan?” Suho membangunkan Chanyeol dari lamunanya. Dia terlalu takut Amber akan kenapa-kenapa.

“Mmm dia masih pending. Mungkin tahun depan baru masuk SMA.” Chanyeol beralasan. Belum boleh ada yang tau kalau Amber masuk ke SMA Doojon untuk saat ini. Suho bingung. Dia ingin berkomentar lagi tapi Chanyeol sudah berlalu meninggalkannya.

“Apa kita akan menyerang hari ini?” Suho mensejajarkan langkahnya dengan Chanyeol.

“Aku tidak tahu. Belum ada rencana.”

¤

“Bagaimana? Sudah dapat info?” Luna histeris begitu mendapati Baekhyun ngos-ngosan di depannya. Baekhyun cuma menggeleng.

“Di angkatan kita tak ada yang tau dia siapa. Aku sudah bertanya tapi semua menggeleng. Aku malu kalau bertanya ke kakak kelas.”

“Aku juga tidak dapat info apa-apa.” Kyungsoo entah sejak kapan sudah berada di belakang Amber. Sudah tidak terhitung berapa kali Amber manarik dan mengeluarkan nafas dalam hari ini. Amber masih nyeker karena tak ada ide apa-apa untuk mengambil sepatunya tanpa bantuan apa atau siapa pun. Kesan pertama memang jelek, tapi setidaknya dia sudah tenar di kalangan anak kelas 1 sekarang. Selalu ada hikmah di balik musibah. Iya kan?

“Ambeeeer!” Chen datang seperti superman mendengar panggilan darurat. “Aku tau dia siapa!” Nafasnya tersendat karena perbedaan dia dengan superman adalah dia tidak benar-benar terbang.

“Siapa,siapa?” Wajah eksaitet itu memenuhi ekspresi mereka. Chen belum menjawab. Masih mengatur nafas agar lancar menyampaikan berita yang baru ia dapat.

“Dia itu…dia itu…”

“Iya dia itu siapa chentong nasi?!” Baekhyun tak sabaran.

“Jangan panggil aku chentong nasi!” Seketika wajah Chen di tekuk. Dia sudah bete kalau di bilang Chentong nasi. Dari awal pendaftaran, daftar ulang, seminar, sampai sekarang mereka saling mengenal Baekhyun lah yang setia mengabadikan julukan itu.

“Yaelaaaah!”

“Kau sih! Iya iya Chen sayang. Jadi dia itu siapa?

“Dia itu…”

TBC

Iklan

6 pemikiran pada “[Freelance] This Is (Episode 1A)

  1. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 1B) | BauBau Fanfiction

  2. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 2) | BauBau Fanfiction

  3. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 3) | BauBau Fanfiction

  4. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 6) | BauBau Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s