[Freelance] This Is (Episode 1B)

Author : Alpaca Ajol

Episode 1A

Note : ada beberapa cerita di dalamnya yang terinspirasi dari novel ‘Matahari Senja’ karya mbak Esti Kinasih.

¤

“Dia itu…” Wajah Kyungsoo, Baekhyun, Amber, dan Luna sudah di buat sekepo mungkin. Dengan rasa penasaran yang membuncah.

“Kita dalam masalah besar!”

“Aduh ini anak aLAY ganggu banget sih! Nanti dulu kita ingin dengar penjelasan Chen dulu.” Baekhyun menepuk jidatnya sendiri. Suasana lagi tegang tiba-tiba Lay nyembur di tengah-tengah ketegangan.

“Tapi ini penting. Aku sudah dapat info tentang orang tadi dari teman kelas 2 ku.” 

“CHEN JUGA INGIN MENCERITAKAN HAL ITU!” Tuhan tolonglah. Kyungsoo sudah siap menjedotkan kepalanya ke tembok depan kelas. Baekhyun dengan senang hati akan membantu. Luna dan Amber sudah gemas ingin meremas? Chen cuma pengo.

“Jadi sebenarnya dia itu siapa sih?” Luna bersuara menahan gregetnya. Gue gigit juga deh nih Chen ama Lay ih. Ah maunya itumah XD

“Lebih baik jangan berurusan denganya deh.”

“IYA MEMANGNYA DIA SIAPA?!!” Peduli amat teriakan mereka menggemparkan koridor kelas 1. Mereka sudah cukup terkenal karena kehebohan tadi pagi. Kehebohan Kris jatuh gara-gara tempat minum Amber. Gara-gara sepatu Amber yang sekarang masih betah nyangkut di dahan pohon. Gara-gara mereka sibuk mencari tahu siapa itu Kris Wu. Gara-gara Lay dan Chen bikin pengen. Pengeeeeh euh. Gua jadi kesel sendiri brooo.

“Kalian tau kan kalau SMA kita dengan SMA Riyu selalu tawuran tanpa tahu apa penyebab awalnya?” Itu bahkan sudah terkenal ke seleruh Seoul kalau SMA Doojon dan SMA Riyu selalu tawuran. Tapi tetap saja 2 SMA ini menjadi pilihan. Yang heboh dan banyak sensasi kan biasanya terkenal. Ssst diam! Ini mulai serius. Amber ce-es mulai menyimak dengan seksama.

“Dia itu Kris Wu. Ketua pasukan yang jadi pimpinan tawuran SMA kita dengan SMA Riyu.”

“Mereka juga bilang, kalau sudah berurusan dengan Kris kita akan susah terbebas dari urusannya.”

“Tidak banyak yang ku dapat, tapi parahnya. Saat kelas 2 dulu, dia pernah mengamuk dan berkelahi dengan preman sampai masuk ICU. Tidak ada yang tahu alasannya jelasnya kenapa.”

“Yang masuk ICU?”

“Preman itu! Kris hanya lecet-lecet ringan.” Baekhyun kaget ngeri. Kalo dia kena gebog Kris bagaimana nanti jadinya?

“Semua anak seangkatannya tunduk padanya. Dulu saat dia kelas 2 pun kakak kelasnya tidak ada yang berani melawannya. Pak Hyuk Jae saja kadang takut dengan Kris walau menurutku dia tak kalah menyeramkan dari Kris.”

“Menurut sumber. Saat baru masuk pun Kris memang sudah bengal. Tapi itu bertambah parah saat dia naik ke kelas 2. Sekarang sudah kelas 3 dia benar-benar berkuasa.”

“Pacarnya?” Tiba-tiba Kyungsoo buka mulut. Pertanyaan gapenting tapi patut di jawab.

“Aku tak dapat info soal perempuan tetapnya. Hanya selewat selewat. Itupun bukan pacar. Katanya sih tidak ada yang tahu pasti seluk beluk hidupnya. Cuma Xiumin dan Luhan yang tau dia. Mungkin.”

“Xiumin? Luhan?”

“Mereka teman terdekat Kris.”

“Jangan berurusan dengannya!!!” Luna dan Amber berteriak serempak setelah mendengar penjelasan dari Chen dan Lay. Kyungsoo, Baekhyun, Lay dan Chen mengangguk mantap tanda setuju. Mereka juga tak ingin mati konyol cuma karna terlalu kepo tentang kehidupan Kris. Tapi Luna dan Amber berpikiran lain.

¤

“Go Amber! Go Amber Go! Go! Go!” Luna menari-nari di bawah seperti anak chers ngajak coret-berak-coretdance. Maaf keypad saya ga ada aplikasi bunyi teeet buat sensor kata-kata tadi. Amber melengos di atas dahan. Tanganya berusaha meraih sepatu di ujung dahannya yang tertutup daun-daun. Dia tak berani lebih maju. Dahannya makin mengecil tapi badannya kan tidak akan ikut mengecil kalau dia terus maju.

“Ayo Amber sedikit lagi.” Luna makin bersorak soray. Baru jari Amber yang dapat menyentuh sepatunya.

Bukk

“Ah sudah jatuh.” Luna berlari mengambil sepatu yang sudah terjun ke aspal. Tapi

Krak

Dahannya patah. Amber kelimpungan kehilangan segenap keseimbangan. Dia hampir jatuh kalau tangannya tak beralih ke dahan lain yang lebih kokoh. Tapi sialnya kakinya lupa di pijakan ke apapun yang ia temui. Bukan lupa. Tapi karna tak ada yang bisa di pijak.

“Lunaaaa! Bagaimana ini aduuuh!” Amber jadi gelantungan. Luna panik di bawah.

“Amber! Aduh bagaimana ini akukan tidak boleh membantumu.” Luna menggigit kukunya sambil lirak-lirik. Sepi. Tolong jangan, tolong jangan. Tolong jangan nih? “Loncat saja loncat. Lepaskan tanganmu. Sudah dekat ke tanah ko.” Sip menolong dengan omongan. Luna memang teman yang baik!

“Yang benar saja hah!”

“Di bilang lepaskan ya lepaskan!” Amber tak ada pilihan lain selain menuruti ide Luna. Dari pada gelantungan seharian.

“Arrggghh pinggangku!”

“Jangan manja. Bangun!”

“Kalau bukan karena dari sekolah kerumah ku harus berjalan cukup jauh. Lebih baik aku nyeker.” Luna cekikikan mendengar gerutuan Amber yang memegangi pinggangnya nyeri.

Amber memakai sepatunya. Lalu berjalan bersama Luna menuju gerbang sekolah. Waktunya pulaaang.

¤

“SMA DOOJON MENYERANG!” Chanyeol dan Suho yang sudah siap menstater motornya berhenti.

“Sialan! Mereka minta perang rupanya.” Suho sudah berlari mengikuti teman yang barusan berlari memberikan informasi. Chanyeol masuk lagi ke halaman sekolah. Mecari beberapa pasukannya yang masih berada di lingkungan sekolah. “Ada yang harus kita urus!” Dia berteriak. Pasukannya sudah mengerti kode yang Chanyeol berikan. Bersama dengan dua orang lainnya, Chanyeol menuju gudang mengambil balok-balok kayu. Lalu keluar lagi dan membagikannya pada anak buahnya. Dia memimpin berlari meninggalkan sekolahan menuju arena perang.

“Kalian urus sisa penghuni sekolah yang masih disini agar jangan dulu ada yang keluar lingkungan sekolah!” Titahnya. Beberapa orang mengangguk. “Kalian. Urus anak-anak yang sudah terlanjur masuk ke lahan perang disana. Lindungi umat SMA Riyu sebisa mungkin.” Chanyeol dan yang lain menyusul Suho.

¤

“Kenapa sepi sekali? Jam bubar sekolah kan baru beberapa menit yang lalu.” Tepatnya beberapa belas menit yang lalu.

“Entahlah.” Amber mengedikkan bahunya tak tahu.

Drrrt.
1 pesan

Baekhyun : Kalian dimana? Kembali ke sekolah! Akan ada perang!

“Hah perang?” Luna bingung. Mereka tetap berjalan, sekarang sudah berada di perempatan hendak menyebrang.

“Ayo.” Amber menarik tangan Luna. Menuntunnya menyebrang. Luna masih tidak mengerti apa maksud sms Baekhyun. Dia mengetikkan balasan.

Luna : Perang apa? Aku tidak mengerti.

Mereka berhenti di terotoar. Harus menyebrang lagi baru sampai gang untuk berjalan lebih santai.

“Baekhyun bilang kita harus kembali ke sekolah. Akan ada perang? Hari ini kan ospek sudah selesai. Apa ada ospek tambahan?”

“Perang?” Tadinya Amber menoleh hanya untuk bertanya, tapi matanya menangkap sebuah tulisan di tiang lampu penerang jalan yang Luna belakangi.

RIYU
DOOJON

Begitulah bunyi tulisan dari semprotan pilox itu.

‘Perbatasan antara SMA Riyu dengan SMA Doojon adalah tiang lampu di perempatan jalan. Jaraknya sama-sama 1 KM dari sekolah masing-masing. Kalau salah satu pasukan mendekati tiang itu, tanda mereka mengajak perang.’

Penjelasan Chanyeol dulu, sekarang terngiang lagi di telinga Amber. Tiang? Tulisan itu? Perempatan? Jalan yang sepi dari 2 jenis seragam-seragam khas? Perang?

“Amber!!!” Suara Luna membuyarkan pikirannya. Amber menengok kuat mengikuti arah pandang Luna yang terpampang panik. Amber tidak sadar penghuni jalan raya sudah kalap berlari meninggalkan kendaraan yang mereka bawa. Luna mengabaikan getaran Handphonenya. Pasti itu Baekhyun dengan menjawab ketidak mengertiannya. Tidak perlu melirik Hp pun Luna sudah bisa melihat jawabannya.

Disisi kiri manusia-manusia bercelana merah, kemeja putih didalam jas abu gelap, tanpa aba-aba sedang berlari brutal menuju lurus ketempat Amber dan Luna berdiri. Amber hafal betul wajah orang yang berlari paling depan, jasnya dibiarkan tak di kancingkan sepenuhnya. Dengan balok kayu besar di tangannya. Kris.

Dia memutarkan kepalanya lagi. Tepat. Di sebelah kanan pemandangan serupa terlihat, tapi dengan seragam berbeda. Celana coklat muda, kemeja putih dan jas hitam. Dan pemimpinya kali ini adalah. Chanyeol.

Kris meraung. Dia berlari makin cepat di ikuti teman-temannya di belakang. Chanyeol menambah kecepatan larinya tak luput pengikutnya mengangkat balok yang mereka bawa.

“Aaaaaaaaaaarrrrggggg!”

“Aaaaaaaaaaarrrrggggg!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” Yang terakhir itu sebenarnya suara Amber dan Luna, tapi suara mereka melebur menjadi satu dengan suara persatuan sengit di sekelilingnya. Baku hantam antara balok-balok kayu. Bahkan balok dengan daging. Suara pecahan kaca mencekam bagai dentingan bel kematian.

“Bagaimana ini?! Bagaimana ini?! Kenapa tidak ada yang memberitahu akan ada tawuran?!” Luna dan Amber saling berpelukan. Membenamkan kepala satu sama lain. Batu batu berbagai ukuran beterbangan di sekeliling mereka. Luna lupa kalau Baekhyun sudah mencoba memberitahu. Hanya saja waktunya kurang. Kurang cepat!

“Kerahkan kemampuan karatemu Amber!” Luna berteriak histeris di tengah pelukannya dengan Amber. Apa besok mereka masih bisa menghirup udara?

“Karate sih karate, tapi kalau sudah begini sensei ku pun bakal K.O!”

Kris menghajar siapa pun lawannya secara membabi buta. Yang penting berbeda seragam dengannya. Hajar!
Dengan mudah dia melumpuhkan musuh-musuhnya karena badannya yang tinggi besar. Tujuanya adalah Chanyeol yang sekarang juga sedang melayangkan tinjunya ke lelaki-lelaki berseragam SMA Doojon. Kris memicingkan matanya setelah melumpuhkan satu mangsanya. Dia menerka-nerka apa yang ia lihat.

“LUHAN!!! Bawa mereka pergi dari sini!!” Luhan sedang sibuk dengan balok kayunya. Tapi telinga tetap bisa mendengar teriakan Kris. Setelah baloknya berhasil menyingkirkan orang dihadapannya, Luhan mencari apa yang Kris maksud.

“XIUMIN!!” Luhan meneriaki Xiumin. Xiumin melepaskan kerah kemeja murid SMA Riyu yang sudah tak berdaya itu. Dia mengerti maksud Luhan. Luhan dan Xiumin berjalan sambil sesekali adu jotos dengan cecunguk SMA Riyu.

Chanyeol diam diam mengikuti arah teriakan Kris, Luhan, dan Xiumin. Dia membulatkan matanya melihat 2 orang yang sangat ia kenali sedang saling berpelukan. Shit!

¤

“Naik!!”

“Hah?!” Amber mendongakkan kepalanya melihat 2 sepeda motor besar berhenti mendadak di depannya. Di depan Amber dan Luna.

“Cepat naik!!!” Tanpa pikir panjang. Yang penting selamat! Amber dan Luna naik ke motor-motor itu. Seragam SMA Riyu yang sekarang ada di depan Amber dan Luna. Motor itu hendak melesat tapi sebuah tangan meraih perut Luna dan menariknya kasar. Itu dari seragam SMA Doojon. Luhan tersungkur begitu saja setelah mendapatkan pukulan keras di tengkuknya. Xiumin tadinya mau melakukan apa yang Luhan lakukan pada Luna ke Amber. Tapi urung melihat Luhan yang terkapar menahan sakit. Xiumin menatap garang murid SMA Riyu yang sudah menjatuhkan Luhan.

Motor-motor itu melesat membawa Amber dan Luna.

¤

Deru motor berhenti meninggalkan debu mengebul karna ban nya terlalu keras bergesekan dengan aspal. Bunyi rem berdecit tak lama standarnya di turunkan.

Chanyeol mengetuk pagar kayu keras-keras. Tak peduli langit sudah gelap dari berjamjam yang lalu. Itu pasti sangat mengganggu penghuni rumah.

Pagar kayu itu terbuka.

“Malam Ajhuma, maaf mengganggu, saya Kakaknya Amber temannya Luna, apa Amber kemari? Dia belum juga pulang sampai sekarang. Saya..”

“Tak usah panik, Amber sudah tidur di dalam bersama Luna. Masuklah.” Ajhuma yang parasnya mirip dengan Luna itu tersenyum setelah memotong ucapan Chanyeol yang sangat tersirat kepanikan sekaligus mempersilahkannya masuk. Tamu tak di undang itu buru-buru berjalan menuju kamar Luna yang tadi sudah di beritahu Mama Luna posisinya dimana. Chanyeol membuka pintunya perlahan. Dia menghembuskan nafas lega. Amber masih utuh tanpa cacat sedikitpun, dia sedang ngorok dengan tangannya menjuntai ke tubuh Luna. Mungkin memang lebih baik Amber menginap dulu disini.

¤

“Amber. Ada telpon!” Luna yang tengah asyik dengan komiknya merasa terganggu karna ponsel Amber tak kunjung berhenti berdering. Pemiliknya malah lebih asyik bermain kartu dengan Kyungsoo, Lay, dan Baekhyun.
Kemarin memang seperti hari terakhir untuk Amber dan Luna. Ah yang penting mereka masih hidup sekarang, untuk apa memikirkan yang sudah-sudah. Dan cerita mereka terjebak di tengah lautan batu dan balok sudah menyebar keseluruh antero SMA Doojon. Tak pasti siapa yang menyebarkannya. Wah makin naik daun lah Amber dan Luna. Gosip gosip di gosok makin sip.

“Dari?” Mata Amber tetap focus ke jajaran kartu di depannya.

“Chan-dil? Hah?” Amber menggebrakkan meja mengagetkan teman bermain kartunya sekaligus teman sekelasnya.

“Kenapa sih? Kan lagi seru-serunya nih!” Lay protes. Amber cengengesan berjalan sambil membungkuk ke ce-es ce-es kelasnya. Luna mendongak minta penjelasan. Tapi Amber malah merampas Hp nya yang belum berhenti berdering itu. Selanjutnya dia menatap Luna dan melebarkan mulutnya nyengir kuda.

“Aku tak dapat ide lebih bagus untuk memberi nama samaran pada kontaknya.”

“Aneh.” Ekspresi Luna pun ikut aneh.

“Kau tau, bahkan di kelas sebelah ada siswi yang bernama Chorong aku tidak protes.” Benarkah? Luna baru mendengarnya. Tega sekali orang tuanya memberikan nama Corong?

“Ya! Kenapa Chorong ku di bawa-bawa hah?” Itu suara Chen, tau nama gebetannya di sebut-sebut gamungkin lah dia tinggal diam.

“Kalian berdua memang cocok.” Amber meluncur cepat membiarkan Chen menggerutu, dia malah tertawa sebelum meninggalkan kelasnya. Amber menuju lokasi yang lebih aman untuk mengangkat telepon rahasianya. Luna terbengong-bengong. Ini ga penting banget deh.

¤

“Hallo.”

“…”

“Kalau kau masih bisa mendengar nafasku, berarti aku baik-baik saja.”

“…”

“Aku tahu.”

“…”

“Loh kenapa? Bukannya kemarin saat ku minta kau bilang tak cukup uang? Aku tidak akan kenapa-kenapa”

“…”

“Ya! Jangan membentak! Kau menyebalkan!” Amber memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia menggerutu tak jelas di depan ponselnya. Niatnya berbalik ingin kembali lagi kekelas tapi malah wajah Kris yang sekarang tepat di hadapannya. Untung Amber tidak punya indikasi serangan jantung. Untung Kris juga tampan, jadi kalau dia kena serangan jantung dadakan ya Amber tidak terlalu rugi, karna yang terakhir dilihatnya memang kontur wajah yang tampannya membahana.

Sejak kapan Kris ada di belakangnya?

“Hmm?” Kris berguman. Apa itu? Sebuah pertanyaan? Tenang Amber tenang.

Apakah tadi Amber salah bicara? Atau Amber keceplosan? Amber mengingat-ingat. Apakah Amber menyebutkan sesuatu yang di tangkap Kris sebagai clue?

“Ini tadi kakakku yang menelefon hehe.”

“Aku tidak menanyakan dengan siapa kau bertelefon.” Tampang Kris datar. Membuat Amber berkeringat dingin saat itu juga. Jangan salting Amber. Relax.

“Segitu tampan kah wajahku sampai ekspresimu seperti itu?” What? Tampan tapi kepedean. Sekali lagi, untung Kris tampan. Amber hanya diam.

“Kau tidak apa-apa kan?” Kris bertanya lagi.

“Kalau kau masih bisa mendengar nafasku berarti aku baik-baik saja.” Jawab Amber datar. Kris manggut-manggut.

“Kupikir mereka akan menawan mu.” Menawan? Oh mungkin soal tawuran kemarin. Untunglah tak ada hubunganya dengan Chanyeol yang baru saja menelefonnya.

“Kenapa kau mau di bawa oleh murid SMA Riyu?” Kris masih bertanya.

“Yang penting aku selamat.” Amber menjawab sebiasa mungkin.

“Sepatu mu sudah kembali?” Oh dia ingat siapa Amber?

“Aku tidak di bantu siapapun saat mengambilnya.”

“Kau..”

“Murid SMA Riyu hanya mengira aku adalah muridnya. Seragam ospek di seluruh Korea kan sama.” Pertanyaan yang belum Kris lontarkan sudah terjawab.

Kepala Luna menyempul dari balik pilar, Amber bisa melihatnya walau ada Kris di depannya sekarang. Luna diam di kejauhan. Tubuh mungil itu terlihat sepenuhnya sekarang.

“Kris?” Luna menggerakan mulutnya tapi tak mengeluarkan suara. Kris sadar kemana Amber memandang.

“Permisi. Aku mau kembali kekelas.” Amber mengambil langkah kekanan, tapi kaki Kris ikut melangkah ke kanan, begitupun saat Amber melangkah ke kiri. “Memangnya kelas mu sedang kosong?” Semoga itu bisa menyadarkan Kris kalau dia harus kembali ke alamnya.

“Tidak.” Kris menjawab santai. Amber mngernyitkan dahi. “Bu Kahi sedang bernyanyi di kelas. Membosankan.”

Menurut daftar nama Guru-guru yang Amber terima, Bu Kahi bukannya Guru biologi?

“Ja-ngan ber-u-ru-san de-ngan nya-” itu Luna tetap berbicara tanpa suara di belakang Kris. Amber mendelik melihat Luna yang mangap-mangap dan telunjuknya mengarah pada Kris. Kris memutar kepalanya membuat Luna tiba-tiba berpaling dan berdendang kecil pura-pura tak tahu. Kris berbalik ke Amber lagi.

“Ikut Aku.” Tangan Kris di tepis oleh Amber padahal menyentuh pun belum. Luna benar. Jangan berurusan dengan Kris.

“Aku…a..da tugas dari Pak Shindong yang belum di selesaikan dan harus di kumpulkan sebelum bel istirahat. Ya kelas kami memang kosong tapi Guru memang tak bisa melihat muridnya bahagia walau semenit saja iya kan? Padahal ini tahun ajaran baru.” Amber beracting. Actingnya tidak terlalu sukses karna Kris tahu itu adalah sebuah penghindaran. Kris membiarkan Amber berlari dan menarik Luna menghilang di balik pilar.

TBC

Iklan

5 pemikiran pada “[Freelance] This Is (Episode 1B)

  1. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 2) | BauBau Fanfiction

  2. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 3) | BauBau Fanfiction

  3. Ping-balik: [Freelance] This Is (Episode 6) | BauBau Fanfiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s