I JUST WANNA SAY ‘ I LOVE YOU’

 

Title : I JUST WANNA SAY  ‘ I LOVE YOU’

Author : .KaiSoo24.

Cast : Park Hyun Soo (Readers), Park Chanyeol, Kim Jong In, Lee Hyun Ji (OC), Do Kyng Soo

Length : Oneshoot

Genre : Sad, Regret, Happy Ending

Rate : G

^Happy Reading^

—oOo—

Drttt.. drttt..

“Hallo.”

“….”

“Aku dirumah. Kenapa ?”

“….”

“Baiklah, aku tunggu !”

Kudapati ponselku yang tiba-tiba bergetar disampingku. Kulihat nama kontak itu, ‘Hyun Ji’. Dia adalah sahabat ku. Dia bilang dia ingin kerumahku. Entah apa tujuannya aku juga tidak tahu. Kuharap kedatangannya bisa menghiburku yang sudah berjam-jam bergelut dengan lamunanku sendiri.

Entahlah, aku juga tidak mengerti bagaimana perasaanku sekarang ini. Apakah aku bahagia atau justru bertolak dari itu, aku tidak bisa memastikan. Yang jelas dalam benakku saat ini adalah, hanya sebuah pikiran kacau yang terus menemani kesendirianku. Bagaimana tidak, lima hari lagi akan diadakan acara besar tiap tahun yang harus dihadapi semua siswa kelas XII, lebih tepatnya Ujian. Dan aku salah satu dari semua siswa itu.

Meskipun aku sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menghadapai ujian, tapi aku juga merasakan apa yang dirasakan siswa lainnya saat menjelang ujian. ’Stress’, itulah kata yang sedikit lebih tepat. Jarum jam didinding kamarku berputar dengan semakin liarnya. Setiap detik, menit, bahkan jam semakin berlalu dibuatnya. Melirik ataupun menatap jam itu hanya membuatku semakin gugup. Em… frustasi, mungkin ! Benda tak tahu diri itu membawaku semakin dekat dengan hari yang begitu menakutkan. Ya! Bagiku itu menakutkan, karena itulah hari yang menentukan bagaimana nasibku nantinya. Dan hari itu juga merupakan hari yang menjadi awal untukku lebih sulit untuk berkumpul lagi dengan orang-orang terdekatku disekolah. Bahkan kesulitan itu bukan hanya antara aku dengan orang-orang terdekatku disekolah, tapi juga antara aku dengan orang-orang yang menurutku begitu spesial selama enam bulan belakangan ini. Ya, spesial bagiku. dia adalah seorang pria yang begitu tampan, tinggi, berkulit sedikit gelap, dan sexy. Bagiku pria itu memiliki segalanya dan begitu sempurna. Dan pria sempurna itu bernama Kim Jong In, lebih akrab disapa Kai. Tapi aku tidak merasa akrab dengannnya sehingga aku tidak pernah menyebut namanya dengan sebutan Kai, tetap pada nama aslinya, Jong In. Nama itupun tak pernah kuucapkan dihadapannya langsung, hanya kuucapkan jika aku menceritakannya pada sahabatku, Hyun Ji. Ya, aku hanya menceritakannya dalam enam bulan ini. Hampir setiap hari, bahkan setiap waktu aku selalu membahas tentang Jong In dihadapan Hyun Ji. Memang terkadang membosankan bagi Hyun Ji. Tapi tidak bagiku, aku tetap menyukai rutinitas konyolku itu, tak perduli Hyun Ji bersedia mendengarkanku atau tidak.

Tuk..Tuk..Tuk…

Seketika suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Pasti itu Hyun Ji.

“Hyun Soo ! Cepat bukakan aku pintu !”

“Tunggu, Hyun Ji ! Sabarlah sebentar !”

Klekk…

“Masuklah dan jangan lupa tutup kembali pintunya !” Aku berlalu sambil berseru padanya yang masih berada di ambang pintu kamarku.

“Kau nampak berbeda hari ini. Ada apa denganmu ? Apakah ada yang sedang kau fikirkan ?”

“Mungkin !”

Aku hanya memberinya jawaban singkat sambil melanjutkan aktifitasku seperti sebelumnya, duduk ditepi ranjang yang meghadap kearah jendela bertirai transparan, sedikit mendongakkan kepalaku kelangit gelap yang menaburkan banyak bintang diatas sana.

“Cantik !”

“Apanya ? Kau bicara padaku ? Ah, aku memang selalu terlihat cantik, Hyun Soo !”

“Aku tidak berbicara denganmu, Hyun Ji !”

“Lalu dengan siapa ? Hanya ada aku juga kau di kamar ini. Lagipula aku tidak pernah melihat kau memuji dirimu sendiri. Jadi, kata-kata itu pasti kau lontarkan padaku, kan ?”

“Kemarilah sebentar, Hyun Ji ! Duduklah disampingku, dan lihatlah diatas sana !”

“Hanya bintang.”

“Setidaknya bintang-bintang itu lebih cantik daripada dirimu !”

“Kau ini kenapa ?! Sikapmu terlihat begitu berbeda malam ini. Tidak biasanya kau meresponku dengan cara yang menyebalkan seperti itu. Apa yang sedang kau fikirkan ?!”

“Bukan apa-apa.”

“Tapi seseorang ?”

“Apa aku harus menjawab ‘iya’, Hyun Ji ?!”

“Huh ! Sudah kutebak. Pasti kau sedang memikirkan Jong In , kan ! Ayolah, Hyun Soo ! Fokuslah pada ujian dulu !”

“Aku sudah mempersiapkan diriku semaksimal mungkin untuk menghadapi ujian. Dan kau sendiri, bagamana denganmu ?!”

“Kau tak usah mengkhawatirkanku ! Yang terpenting sekarang, kau berhentilah dulu untuk terus memikirkan Jong In !”

“Berhenti ?! Berhenti memikirkan Jong In ? Itu sama saja kau menyeruku untuk berhenti bernafas ! Apa kau tidak pernah merasakan hal yang sama sepertiku, huh ?!”

“Hey, jangan terlalu bodoh hingga kau menanyakan hal seperti itu ! Semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kau.. kau sangat berlebihan !”

“Maksudmu ?” Tanyaku datar.

“Ya, yang kau lakukan hanyalah terus memikirkannya setiap waktu. Dan hal itu membuatmu tidak begitu perduli dengan segala hal yang ada disekitarmu termasuk aku, sahabatmu ! Kau terkadang tidak menganggap keberadaanku meskipun aku sedang bersamamu ! Dan kau terlihat begitu bodoh jika seperti itu !”

“Lalu, menurutmu aku harus beruat apa agar aku tak terlihat bodoh ?”

“Cobalah beranikan dirimu untuk mengungkapkan perasaanmu itu pada Jong In. Diterima atau tidaknya itu urusan nanti. Yang terpenting setelah kau mengungkapkan perasaanmu itu, kau pasti merasa sedikit lebih tenang !”

Hah ?!
Apa katanya ? Ungkapkan ? Hyun Ji menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan yang kupendam selama hampir enam bulan pada ini Jong In ? Apa begitu mudah untuk mengungkapkan perasaan pada seseorang ? Dia fikir aku berani ?! Huh !

“Sudahlah. Kau tak perlu repot-repot memikirkan perasaanku pada Jong In ! Eoh, malam ini kau menginap disini saja, ya ! Temani aku !”

“Hah, kau selalu saja tidak menanggapi perkataanku dengan serius !”

“Aku mengantuk, Hyun Ji ! Aku tidur dulu, ya. Paii paii ^^.” Aku tahu jawaban yang kuberikan hanya akan membuatnya kesal padaku. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang sudah mengantuk.

________
“Hyun Soo, bangun !”

“Hyun Ji ? Kenapa kau membangunkanku ?”

“Tidak usah bertanya ! Ini sudah pagi, apa kau tidak ingin sekolah ?!”

Hah ?! Sudah pagi ? Jam itu, benar-benar benda tidak tahu diri ! Kurasa aku baru saja memejamkan mataku tadi malam, dan sekarang benda itu sudah membuatku harus bangun pagi. Huh !

“Aku tidak mau sekolah, Hyun Ji ! Kau sekolah sendiri saja, ya !” Jawabku santai.

“Apa ?! Dasar bodoh ! Ini adalah dua hari terakhir kita untuk bersama teman-teman sebelum hari tenang. Setelah itu hari dimana kita harus berjuang selama 3 hari, dan setelah itu juga kita tidak sekolah sampai satu minggu kedepan, hingga pada akhirnya kita melaksanakan upacara perpisahan ! Ya, menurutku dua hari terakhir ini adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman.” Ucap Hyun Ji panjang lebar.
“Kau pikir setelah kita lulus nanti kita tidak bisa bertemu dengan mereka lagi sehingga kau tampak sekhawatir itu ?! Kenapa kau begitu memikirkan mereka ?!”

“Tentu saja, bagaimana jika diantara mereka nantinya ada yang melanjutkan sekolah keluar negeri ? Dan bagaimana pula jika Jong In-lah salah satu dari siswa yang ingin melanjutkan sekolah keluar negeri itu ?!”

“Apaaaa ?!”

Ah, aku lupa. Tujuanku kesekolah selain untuk belajar juga untuk melihat Jong In. Ya, hanya sekedar melihatnya dari seberang kelasku, dan melihatnya itupun tidak setiap waktu. Karena aku terlalu sering memperhatikannya, aku sampai mengerti kalau Jong In begitu jarang keluar kelas. Kenapa aku bisa tahu ?! Itu karena aku selalu keluar kelas setiap 30 detik sebelum bel tanda istirahat berbunyi dengan alasan izin ke kamar kecil. Tak perduli apa tanggapan para guru padaku. Dan kupikir tidak mungkin Jong In juga melakukan hal yang sama sepertiku, kalaupun juga seperti itu, berarti aku dan Jong In jodoh. Ya, semoga !
“Hey !”
“Woaa ! Eh, ya Hyun Ji, aku akan sekolah.” Ucapku lebih bersemangat.
“Huh, kau ini ! Baiklah, aku pulang dulu, ya. Aku tidak membawa seragam sekolah tadi malam. Sampai jumpa disekolah, Hyun Soo. Paii.”
“Paii. Hati-hati Hyun Ji.”
“Ya.”

_______

Triiing..

Bel pertanda istirahat pertama kini terngiang ditelinga setiap siswa yang hadir disekolah dan membuat semua siswa serentak berburu keluar kelas. Tapi tidak denganku, aku sudah berdiri disamping kelas sejak setengah menit yang lalu. Meski hanya sebatas didepan kelas, aku tetap saja tidak bosan melakukan rutinitasku seperti biasa disekolah, mengunci pandanganku kearah kelas diseberang sana, tentu saja mencari sosok seorang Kim Jong In.
“Ayolah, keluar dari kelasmu sebentar saja, Jong In ! Waktu untuk menunggu dan melihatmu dari sini tidak banyak ! Huh !”

Aku baru sadar setelah menggerutu kesal ternyata disampingku berdiri seorang pria bodoh yang menyebalkan tengah memperhatikan juga mendengarkan setiap perkataanku tadi.
“Hey, kau tidak sedang sakit, kan, chagi ? Kenapa kau berbicara sendiri, eoh ?!”

Yaa ! Benar saja jika aku tidak akan pernah menarik kata-kataku lagi kalau pria ini memang bodoh ! Dan, dia memanggilku dengan sebutan ‘chagi’ ? Hey, aku ini bukan kekasihnya ! Hah, benar-benar gila !
“Sejak kapan kau berada disini, Park Chanyeol ?!” Tanyaku frustasi.
“Tentu saja setelah bel istirahat berbunyi tadi. Aku pikir kau akan melakukan rutinitas konyolmu itu lagi, dan setelah aku mendekatimu, dugaanku itu benar. Sudahlah, chagi ! Kau tidak usah terus menerus menunggu pria itu, penantianmu itu hanya akan sia-sia !”
Ya ! Park Chanyeol bodoh ! Kutegaskan sekali lagi dia bukan kekasihku ! Dia memang menyukaiku sejak kami kelas XI, tapi aku selalu menolaknya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang menjadikanku untuk terus menolak pria -yang terbilang tak kalah tampan, keren, dan tinggi dari Jong In- ini. Hanya saja dia sedikit gila. Aku selalu merasa frustasi setiap kali berbicara dengannya. Hingga pada akhirnya aku mengagumi seorang Jong In, mungkin itu juga yang membuatku menolak pria bodoh ini. Aku rasa tidak salah jika aku menyebutnya pria bodoh, karena dia memang, ehm.. bodoh ! Ya, begitulah. Sudah berkali-kali kutolak, tapi tetap saja tak kehabisan usaha untuk mendapatkanku.

“Apa ? Chagi ?! Aku bukan kakasihmu, jadi jangan semaumu memanggilku dengan sebutan ‘chagi’ ! Lalu apa urusannya denganmu kalau aku tetap menunggu dan mengharapkan Jong In ?!”
“Kurasa aku berhak memanggilmu ‘chagi’ ! Karena aku menyayangimu. Sangat menyayangimu ! Ya tentu saja itu urusanku juga, kalau kau terus-terusan mengharapkan Jong In, dan pada akhirnya kau tidak mendapatkan sesuai dengan yang kau harapkan, kau pasti sangat sedih. Dan aku.. sungguh aku tidak bisa melihatmu bersedih !”

Omo, pria ini. Sungguh aku kasihan padamu ! Tapi kumohon, mengertilah aku benar-benar tidak bisa menerimamu hanya karena kasihan padamu. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku padamu, Park Chanyeol. Meskipun aku tahu semua yang kau katakan itu benar.

“Yeolie hyung.”

“Eh, Kyungie. Ada apa ?”

“Aku lapar hyung. Temani aku kekantin.”

“Hem.. Baiklah. Ayo kita kekantin, chagi.” Pria ini melemparkan ajakan padaku juga setelah ia diajak oleh adiknya, Do Kyungsoo.

“Terimakasih, Yeolie. Tapi, maaf aku sedang tidak ingin kemana-mana.”

“Eoh. Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku tinggal sebentar, ya, chagi. Tenang ! Aku hanya kekantin sebentar, jadi jangan terlalu merindukanku, ya.”

“Huh ! Sungguh berlebihan !”

______

Lima menit.. sepuluh menit.. aaaa.. Rasanya ingin kulempar arloji yang melingkar dipergelangan tanganku ini. Lima menit lagi bel tanda masuk berbunyi, secepat itu kah ?! Itu artinya kesempatanku untuk melihat Jong In hanya lima menit pada jam istirahat pertama. Aish ! Tapi, masih ada istrahat kedua. Lalu, bagaimana jika Jong In juga tidak keluar kelas saat istirahat kedua nanti ? Ah, masih ada waktu pulang. Tapi, bagaimana jika Jong In pulang lebih dulu dari pada aku ?

“Aaahhhh.”
“Hyun Soo ?! Kau kenapa ?”
Hah ?! Seketika baru kusadari bahwa aku telah berteriak didepan kelas, dan tentunya disaksikan orang-orang sekitar. Astaga !

“Hyun Ji ? Ah, tidak ! A-aku tidak apa-apa.”

“Benar kau tidak apa-apa ?”

Aku hanya mengagguk pelan. Ah ! Mungkin lama-kelamaan aku akan kehilangan akal jika terus-terusan memikirkan Jong In. Tapi, itulah hal yang kusenangi meskipun hanya sekedar memikirkannya.

________

Brukkk ..
pria berpostur tubuh tinggi itu meletakkan tulang ekornya diatas mejaku. Aahhh ! pria ini selalu saja membuatku terkejut. Siapa lagi kalau bukan si bodoh Chanyeol !

“Ya ! Apa yang kau lakukan, bodoh ?! Kau membuatku terkejut lagi !”

“Maaf, chagi. Tadi Hyun Ji bilang kau berteriak didepan kelas. Dan kejadian itu berlangsung setelah aku meninggalkanmu kekantin. Secepat itu kah kau merindukanku lagi ?”
“Apa ?! Yeollie kumohon kurangi sedikit saja rasa percaya dirimu yang berlebihan itu !” Jawabku lagi-lagi frustasi.
“Kau selalu saja tidak mau mengaku kalau kau memang merindukanku. Baiklah, aku akan selalu menemanimu kalau kau memang sangat merindukanku walau sedetik kita tidak bertemu.”
“Eh ?!”
“Hyun Ji-ah ! Mulai sekarang kita bertukar tempat duduk, ya !” Ucapnya pada Hyun Ji.

“Oke, Chanyeol.”

Haa ?! Bodoh ! Kenapa begitu mudahnya Hyun Ji mengiyakan tawaran namja ini, apa ia ingin melihatku mati frustasi hari ini ?! Grrhhh !

_______

Huh ! Percuma ! Dari pagi, istirahat petama dan kedua, sampai pada waktunya pulang sekolah tak sekalipun aku melihatmu, Kim Jong In. Kurasa niat untuk melanjutkan tidurku tadi pagi tidak jadi masalah.

“Chagi, kau pulang sendiri ? Mana Hyun Ji ?”

“Tidak. Aku pulang bersama Hyun Ji. Dia masih mengembalikan buku pada temannya, jadi aku menunggunya disini.”

“Eoh. Baiklah, aku akan menemanimu sampai Hyun Ji datang.”

“Tidak perlu, Yeolie ! Karena Hyun Ji sudah datang.”

“Maaf Hyun Soo. Aku sedikit lama.”

“Ah ! Kau tega sekali membuat kekasihku harus menunggumu begitu lama.”

“Eh ?!”

Yaa ! Pria ini mulai lagi ! Hyun Ji hanya terkekeh pelan melihat aksi berlebihan Chanyeol dan ekspresi konyolku menanggapi kegilaan pria tersebut.

“Sudahlah ! Kau tak perlu menyalahkan Hyun Ji, Park Chanyeol ! Hyun Ji, ayo kita pulang. Yeolie, aku pulang dulu !”

“Hmm.. Baiklah, chagi. Hati-hati di jalan, ! Eoh, jika sampai rumah nanti kau sudah merindukanku dan membutuhkanku, kau tenang saja ! Aku akan selalu ada untukmu, chagi.” Dia tersenyum sambil menampakkan wajah seriusnya. Kali ini aku harus jujur bahwa senyuman itu sangatlah indah. Tapi aku juga harus lebih jujur bahwa perkataannya barusan itu menjadikannya terlihat seperti seseorang yang begitu polos dan dengan mudahnya melontarkan kata-kata yang… err… begitu berlebihan.

______

Seperti biasanya, setiap malam aku kembali memandangi indahnya bintang-bintang yang bertebaran dilangit malam, terkadang sambil menghitungnya sampai mataku lelah dan pada akhirnya mengantuk.

Kutenggelamkan kepalaku diatas bantal putih bercorak bunga milikku. Merapikan selimut yang menutupi sebagian tubuhku, dan terakhir berdoa berharap aku bisa bertemu dengan Jong In dalam mimpi. Hanya dalam mimpi. Huh !

Drrttt.. Drrttt..

Massage from : Sibodoh Yeolie

‘Matamu pasti sudah lelah setelah menghitung banyaknya bintang. Tahukah kau ? Aku juga melakukan hal yang sama sepertimu tadi. Dan sekarang aku juga melakukan hal yang sama denganmu lagi, chagi, yaitu memandangi layar ponsel. Hehe !’

‘Aku tidak menanyakannya !

Yaa ! Karena kau tahu saat aku menerima pesan darimu aku pasti memandangi layar ponsel, lalu kau lakukan hal itu juga dan dengan bangga kau pamerkan padaku kalau aktivitas yang kita lakukan saat ini sama. Huh !’

‘Aku hanya ingin kau tahu. Dan itu supaya kau tidak berfikir keras untuk mencari tahu tentang apa yang sedang kulakukan.

Eh, kumohon untuk tidak melampiaskan rasa kesalmu dihadapan ponselmu itu. Kau pasti terlihat sangat buruk rupa, dan betapa kasihannya ponselmu itu, chagi.’

‘Berhentilah untuk mengejekku, bodoh !’

 

‘Aku hanya ingin menghiburmu, chagi. Karena aku tahu kau pasti sangat gelisah karena sedang merindukanku.’

Hah ! Rasanya ingin kulempar ponsel yang hanya menjadi perantara Park Chanyeol untuk melakukan aksi gilanya ini.

‘Kuingatkan sekali lagi padamu, kurangi sedikit saja rasa percaya dirimu yang berlebihan itu, Yeolie !’

‘Akan kuusahakan, chagi ! Tapi, yang harus kau tahu, tingkahku yang selama ini kau anggap berlebihan itu menurutku adalah salah satu cara andalanku untuk bisa menghiburmu. Kalau kau terhibur karna tingkahku itu, kau pasti tersenyum. Dan senyumanmu itu pasti sangat indah, mengalahkan semua keindahan bintang-bintang di langit malam.’

‘Adakah cara lain selain sekedar mengusahakannya ?

Ya, kuhargai usahamu itu. Dan aku akan berusaha agar terhibur.’

‘Hah ? Hanya berusaha ? Tidak ada kah tindakan lain ?’

‘Hey ! Kenapa kau balik menanyaiku ?! Huh ! Sudahlah, aku malas beredebat lagi dan aku sudah mengantuk. Night, Yeolie. Paii.’

‘Huh. Baiklah. Night, chagi. Kita bertemu dimimpimu, ya. Aku akan selalu merindukanmu dan aku yakin kau pasti juga akan merindukanku, bahkan sangat merindukanku.’

Huh ! Pria yang benar-benar bodoh ! Tapi, terimakasih telah berusah menghiburku meski aku tak selalu terhibur dengan aksi gilamu itu, Chanyeolie ! Aku hanya bisa jujur pada diriku sendiri kalau terkadang aku merindukanmu juga !

Hey, kau boleh menjahiliku saat aku sedang terjaga, Park Chanyeol. Tapi tidak untuk mimpi indahku, apalagi kalau aku bertemu dengan Jong In dalam mimpi itu !

________

Drrtt… Drrtt…

Ah… Siapa yang berani membangunkanku sepagi ini ?!

“Hallo.”

“Ayo kita berangkat sekolah bersama. Aku akan mejemputmu, chagi.”

“Aku baru bangun, Yeolie. Aku belum mandi. Kemungkinan aku tidak akan turun sekolah hari ini.”

“Tapi aku sudah didepan rumahmu, chagi. Dan, eoh jika kau tidak ingin sekolah hari ini, aku juga tidak akan pergi kesekolah dan menunggu disini sampai jam pulang sekolah.”

“Apa ? Bagaimana bisa kau baru menelponku sekarang sedangkan kau sudah menungguku didepan, huh ?!”

“Aku takut kau akan menolak kalau aku ingin menjemputmu.”

“Bodoh ! Baiklah, tunggu aku ! Aku mandi dulu.”

Aaa ! Ini masih pagi, tapi kenapa aku sudah harus menghadapi yang namanya frustasi lagi ?!
________

“Kau lama sekali, chagi.”
“Itu resiko mu !”
“Huh ! Masuklah yeoppo chagi.”

Tingkahnya ! Hah ! Benar-benar gila ! Sekedar membukakanku pintu mobil apakah harus dengan tingkah sekonyol itu ?!

“Pulang nanti kita kencan dulu, ya, chagi.”

“Ha ?! Kencan ? Kemana ?”
“Hmm, nanti kau tahu sendiri !”
“Bagaimana kalau aku tidak mau dan ingin langsung pulang kerumah ku sendiri ?!”
“Kalau begitu kita berkencan dirumahmu saja.”

Aigoo Chanyeolie!
_______
“Hay, Hyun Ji.”
“Hay, Hyun Soo. Eh, kau pergi dengan Yeolie pagi ini ? Bagaimana dia bisa berhasil meluluhkanmu agar kau mau pergi kesekolah dengannya ?”

“Tentu saja dengan menggunakan tingkah gilanya itu.”
Hyun Ji hanya terkekeh mendengar apa yang kuceritakan padanya pagi ini.

“Hyun Ji-ah, kembalilah ketempat dudukmu ! Aku juga mau duduk !” Chanyeol tiba-tiba datang dan memotong pembicaraanku dengan Hyun Ji.
“Huh ! Oke ! Oke !” Sahut Hyun Ji kesal.

“Hey ! Bukankah ini memang tempat dudukmu, Hyun Ji ?” Tanyaku pada Hyun Ji.
“Kau lupa, huh ?! Kemarin kan aku bertukar tempat duduk dengan nkekasihmu ini !”
“Hah ? Tapi kenapa sekarang kau mengiyakan permintaanya untuk bertukar tempat duduk lagi, Hyun Ji ? Kau benar- benar ingin melihatku mati, huh ?!”
“Sudahlah, chagi ! Tadi malam aku membelikan lima cup Ice Cream untuk Hyun Ji supaya dia mau bertukar tempat duduk lagi denganku hari ini.

Dan, tentunya aku tidak akan membiarkanmu mati, maka dari itu aku akan duduk disini untuk menemanimu.
Aagghhh ! Hyun Ji ! Ternyata kau sama bodohnya dengan Park Chanyeol ! Huh, syukurlah ini hari terakhirku duduk sebangku dengan pria yang benar-benar gila ini !

________
Triing…
Yah ! Bel istirahat. Sepeti biasa, aku akan setia menunggu Jong In keluar dari kelasnya lalu melekatkan pandanganku kepada pria sempurna itu. Tapi, apa nasibku hari ini akan sama seperti kemarin lagi ?! Ah, tidak mungkin !

Hey ! Jam yang melingkar dipergelangan tanganku ini memutarkan benda kecil ditengahnya dengan begitu cepat. Lima menit.. sepuluh menit.. Aaaa !
Prakkk
Kini niat untuk melepar benda itu tidak kuurungkan lagi. Saat ini arloji itu telah tergeletak di lantai selasar kelas. Dan yang dihadapanku sekarang, kulihat jari-jari manis seorang
wanita yang mengambil dan memberikan arloji itu padaku.
“Ini milikmu, kan, kak ?”

Mungkin saat ini aku terlihat lebih bodoh dari pada Chanyeol. Aku sedikit merasa bingung melihat wanita yang ada dihadapanku saat ini.

“Ini ! Arloji ini sangat cantik. Kau rugi jika membuangnya, apalagi jika benda ini pemberian orang lain. Bukankah kita harus mengargai pemberian orang lain ?” Ucapnya sambil tersenyum manis.

“Ehh.. I-iya, terimakasih.”

Siapa dia ? Adik kelasku ? Dia cantik, baik, dan juga begitu ramah. Beruntung sekali seorang yang menjadi kekasihnya itu..

Aigoo, aku baru ingat kalau arloji unik ini pemberian Park Chanyeol, dan jujur aku menyukai pemberiannya ini.

Kuakui dalam hal ini Yeolie pandai memilih dan memberikan hal-hal yang kusukai, makanya aku memakai arloji pemberiannya ini.
_______

“Ayo kita pergi kencan, chagi.”

“Langsung ? Tidakkah kau berfikiran untuk ganti baju terlebih dulu ?!”

“Tidak perlu ! Ayo !”

“Eh, kau tunggu aku dimobilmu saja, ya ! Ada yang ingin kuselesaikan sebentar.”

“Hm… Baiklah. Jangan lama, ya, chagi !”

Aku sedikit berbohong pada Chanyeol, sebenarnya tidak ada yang ingin aku selesaikan, tapi aku hanya ingin menunggu Jong In keluar dari kelasnya dulu.

Aiss ! Bagaimana ini ?! Ini hari terakhir sekolah, tapi apa mungkin nasibku akan seperti kemarin lagi ?! Dan, eoh kenapa Jong In tidak keluar juga ? Padahal kelasnya sudah hampir kosong. Bahkan sudah ditutup. Huh. Itu artinya dia sudah pulang lebih dulu dari pada aku hari ini.

“Kakak !” Wanita tadi, wanita yang mengambilkan arlojiku, dia kembali menyapaku.

“Ah, y-ya ?”

“Kau sedang menunggu seseorang ?”

“Iya, tapi mungkin orang yang kutunggu itu sudah pulang lebih dulu. Dan, kau ? Apa ada yang sedang kau tunggu juga ?”
“Tidak. Tapi aku yang sedang ditunggu. Aku sudah ditunggu kekasihku, kalau begitu aku deluan, ya, kak.”

“Eoh, iya ! Eh, tunggu ! Siapa namamu ?
“Namaku Kim Yeo Ra.” Ucapnya sambil membungkuk sedikit lalu mulai melangkah menjauhiku.

Nama yang cantik, sama seperti orangnya. Marganya sama seperti marga Jong In. Beruntung sekali dia. Sedangkan aku, mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa margaku sama dengan marga si bodoh Chanyeol !

_______

“Darimana saja kau, chagi ?”

“Apa urusanmu ? Cepat antarkan aku pulang kerumah !” Jawabku sedikit sinis akibat kekesalanku karna beberapa hari ini tak sekalipun aku bertemu dengan Jong In.

“Hey, kita harus kencan dulu baru kau kuantar pulang ! Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu, yang penting kau harus ikut denganku !” Ucapnya terdengar seidikit memaksa.

“Huh !”

_______

“Wah ! Lihatlah ! Tempat ini begitu indah, chagi. Aku yakin kau pasti menyukai tempat ini.”

“Tidak menarik sama sekali.” Jawabku dengan begitu dingin.

“Yaa ! Ada apa denganmu chagi ? Apa kau tak dapat melihat keindahan yang ada didepanmu saat ini ? Atau… Eoh, pasti kau sedang memikirkan Kim Jong In, kan ?! Ayolah chagi, kumohon padamu untuk saat ini jangan memikirkannya dulu ! Hal itu hanya akan mengganggu acara kencan kita !”

“Apa urusannya denganmu, huh ?! Kuingatkan lagi padamu bahwa aku bukan kekasihmu, jadi jangan semaumu terus menerus memanggilku dengan sebutan chagi ! Aku benci itu ! Dan sekarang ini, aku tidak mengaggap ini acara kencan ! Jadi, cepat antarkan aku pulang sekarang juga !”

Eh… Apa ? Apa yang kukatakan padanya barusan ? Apakah perkataan itu terdengar begitu kasar ? Ah, aku tahu Park Chanyeol pasti sudah terbiasa dengan sikap dinginku padanya. Meskipun begitu, aku tidak pernah melihatnya marah padaku.

“Aku tahu ! Aku tahu kau bukanlah kekasihku. Aku tahu aku bukan siapa-siapa bagimu. Tapi, tidak bisakah kau menghargai sedikit saja usahaku ? Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu ? Aku memanggilmu dengan sebutan CHAGI karena aku menyayangimu, karena aku mencintaimu ! Hampir dua tahun aku berusaha mendapatkanmu, hampir dua tahun aku terus menantimu, hampir dua tahun pula aku hanya mendapatkan perlakuan dingin darimu. Kau tahu ? Dibalik semua tawaku, dibalik semua tingkah gilaku, aku menyembunyikan sejuta sakit dalam hatiku. Aku menyimpan perih setiap kali kau hanya lebih memikirkan Jong In daripada aku.”

Deg~

Dia… Dia terlihat begitu serius. Ucapannya benar-benar terdengar lirih saat kudengar. Ada apa dengannya ? Apa dia kecewa padaku ?

“Aku sadar usahaku selama ini hanya sia-sia, dan kini aku lebih menyadari kalau kau memang tidak pernah menyukaiku, apalagi mencintaiku.

Baiklah, jika saat ini kebosananmu telah memuncak karena kehadiranku yang telah merusak kebahagiaanmu,aku benar-benar minta maaf. Mulai detik ini aku akan mencoba untuk menjauhimu, jika memang itu yang kau harapkan dari pria bodoh sepertiku !”

“C-chanyeol, apa yang kau katakan ?” Tanyaku yang terlihat begitu bodoh.

Tes~

Tidak kusangka, dia… dia juga meneteskan air mata. Benarkah itu dia ? Apa dia benar-benar terluka karna perlakuanku sehingga ia harus menagis ?

“Yeolie, kau menangis ?”

“Mungkin ! Eoh, maaf jika selama dua tahun ini aku hanya menyusahkanmu, maaf jika kehadiranku hanya mengganggu kebahagiaanmu. Dan, kau tak perlu khawatir, mulai saat ini aku tidak akan memanggilmu ‘chagi’ lagi. Semoga kau menemukan pria yang kau harapkan selama ini !”

Chanyeol, kau kah itu ? Benarkah kau begitu terluka ? Aku sedikit tidak percaya telah membuatmu menangis. Pria yang penuh tawa, kini meneteskan air matanya dihadapanku, dan itu karena ulahku.

“Chanyeol, maaf..”

“Mari kuantar pulang. Kau tidak suka aku membawamu ketempat ini, kan ? Maaf aku telah lancang membawamu ketempat ini.”

Apa maksudnya ?! Kini aku yang benar-benar terlihat bodoh. Chanyeol, tak sekalipun ia terlihat main-main dengan apa yang baru saja ia katakan. Dia juga tidak memanggilku chagi lagi, bahkan ia sudah ingin mengantarkanku pulang.

Chanyeol, maaf !

_______

‘Hallo.’ Jawab Hyun Ji dalam percakapan teleponku dengannya.

“Hyun Ji, bisakah kau temani aku lagi malam ini ?”

‘Kenapa ?’

“Aku mohon, Hyun Ji.”

‘Hm… Baiklah, aku akan menemanimu.’

“Terimakasih, Hyun Ji.”

Ada apa denganku ? Kenapa pikiranku jadi bercabang malam ini ? Jika setiap malam aku memikirkan Jong In, itu wajar. Tapi, malam ini aku juga memikirkan Chanyeol. Aku sedikit merasa besalah padanya. Ah, tidak ! Tapi aku benar-benar merasa bersalah padanya.

Tapi aku juga masih sedikit ragu apakah dia benar-benar marah padaku atau tidak. Eoh, aku baru bisa memastikan hal tersebut saat aku akan tidur nanti. Jika Chanyeol mengirimkan pesan padaku, itu artinya dia tidak benar-benar marah padaku, tapi jika sebaliknya, entahlah. Huh !

“Hyun Soo, aku datang.”
_______

Oh Tuhan, aku tidak sadar kalau tadi malam aku tertidur lebih awal, aku tidak tahu apakah Chanyeol mengirimkanku pesan atau tidak.

Segera kuambil ponsel yang kuletakkan dibawah bantal tidurku dan lansung memeriksanya, tapi.. tak satupun ada pesan masuk. Chanyeol, dia pasti sudah benar-benar kecewa dan marah padaku.

“Kau sudah bangun, Hyun Soo ? Tidak biasanya kau bangun lebih dulu dariku ! Apalagi hari ini kita tidak sekolah.”

“Eoh, aku hanya terbangun, tapi aku ingin melanjutukan tidurku lagi. Aku masih begitu mengantuk, Hyun Ji.”

“Hm, kau tidur saja lagi ! Aku sudah tidak bisa melanjutkan tidurku lagi, aku ingin membuat sarapan.”

“Hmm !”
_______

Aghhh ! Kupikir rasa benciku terhadap benda yang bernama arloji itu semakin menjadi-jadi. Besok ! Ya, besok sudah hari itu. Hari ujian yang harus mempertemukanku dengan soal-soal yang.. menyebalkan mungkin ! Jong In, aku teringat padanya lagi. Kapan kali terakhir aku melihatmu, Jong In ? Apakah besok hingga tiga hari kedepan aku masih memiliki kesempatan melihatmu lagi ? Aku benar-benar tidak yakin, apalagi ruang kelas kita berbeda. Sistem pembagian ruang kelasnya berdasarkan urutan inisial marga siswa. Tentu saja aku tidak satu ruang dengan Jong In, dan dapat kupastikan ruang kelasku sedikit lebih jauh dari ruangannya. Bayangkan saja, dari inisial marga Jong In ‘K’ dan inisial margaku ‘P’. Hah ! Itu membuatku sedikit tidak bersemangat.
______
Kurasa persiapan besok sudah cukup maksimal. Tentu saja aku bergegas tidur setelah sebagian waktuku kulangkan untuk berkencan dengan buku-buku yang berkaitan dengan teori ujian. _______

“Park Hyun Soo !” Pekik Hyun Ji yang berada dibelakangku. Spontan aku menoleh kearahnya.
“Apa ?”
“Kau tahu ? Ruangan ujianku bersebelahan dengan ruang ujian Jong In.”

“Benarkah ? Bagaimana bisa ?”
“Aish ! Kau lupa ?! Inisial margaku dan marga Jong In adalah L dan K, jadi tidak satu pun berselisih huruf.”
“Eoh, i-iya. Kau beruntung sekali.”

“Tidak juga. Aku akan merasa lebih beruntung jika aku satu ruangan dan duduk sebangku dengannya !” Ucapnya datar dan begitu santai.

“Apa katamu ?!” Dan spontan aku menatap tajam kearahnya.

“Eh, t-tidak ! Eoh, kau satu ruangan dengan Park Chanyeol, kan ? Mana dia ? Apa ia tidak menjemputmu ?”

“Entahlah !”
“Eh, itu dia Yeolie, kekasihmu !”

Mendengar perkataan Hyun Ji spontan membuatku menoleh kearah yang ditunjuknya, tempat Park Chanyol yang tengah mengobrol dengan temannya.

“Yeolie-ah ! kekasihmu disini !” Sahut Hyun Ji pada Park Chanyeol. Membuat pria bongsor itu menoleh kearah Hyun Ji, mungkin kearahku juga. Dapat kupastikan penampilannya benar-benar berbeda hari ini. Hmm~. Terlihat lebih cool ? Mungkin ! Terlihat lebih tampan ? Ah, Chanyeol memang tampan. Eh ?! Apa yang kukatakan tadi ? Ahh ! Yang jelas saat aku sesekali menatap kearahnya, sedikit ia hanya menampakkan wajah dingin sebagai respon untuk Hyun Ji yang memanggilnya. Dia benar-benar kecewa padaku.

“Ada apa dengan Park Chanyeol, Hyun Soo ?”

“Ehm~, nanti saja kuceritakan padamu !”

“Oke. Kalau begitu aku kembali keruanganku dulu. Sebentar lagi pengawas datang. Paii, Park Hyun Soo.”

“Hm~ !”

______

Hari pertama ujian telah dilalui. Lagi-lagi tak sekalipun aku melihat Kim Jong In. Dan satu lagi yang ada dipikiranku sekarang, Park Chanyeol. Saat ini pikiranku dipenuhioleh dua makhlu itu, Kim Jong In dan Park Chanyeol. Bagaimana tidak, sikap Park Chanyeol begitu dingin. Apa dia ingin balas dendam ? Hah !
______

Hari pertama, hari kedua, hari ketiga, dan sekarang sudah hari terakhir ujian. Aku benar-benar gila. Dalam dua hari itu tak sekalipun aku melihat Jong In. Dan.. Chanyeol ! Ya, dia juga menjadi beban pikiranku sekarang ini. Semakin hari sikapnya semakin berubah, tapi aku tetap berharap semoga hanya sikapnya yang berubah-ubah, tidak pada dirinya juga. Dan setiap kali aku berpapasan dengannya, dia selalu menatapku dengan tatapan seakan-akan akulah makhluk yang paling tak pantas untuk dilihat. Namun, aku juga harus bersyukur karena ternyata aku masih memiliki persediaan teman selain Chanyeol, -Hyun Ji.

Untuk beberapa hari selama ujian, aku hanya menerima informasi mengenai Jong In dari Hyun Ji yang mungkin lebih beruntung karena dapat bertemu dengan Jong In. Dan.. mengenai sikap Chanyeol terhadapku, dia juga sudah tahu -meskipun aku lupa bagaimana Hyun Ji bisa mengetahui hal itu.

“Hyun Soo, ayo kita pulang.” Ajaknya setelah berhasil menyetarakan posisinya disebelahku -yang entah darimana asalnya.

“Sebelum pulang aku akan menagih hutangmu dulu !”

“Hutang ?” Tanyanya bingung sambil mengerutkan keningnya. Ekspresi yang sungguh sangat tidak kusuka darinya.

“Info tentang Jong In, bodoh !” Jawabku enteng.

“Huh ! Dasar tak tau berterimakasih.” Protesnya masih tetap dengan ekspresinya yang menyebalkan.

“Cepat katakan atau kau akan kutinggal pulang !”

“Kau pikir aku takut jika kau tinggalkan, eoh ?! Justru aku yang akan meninggalkanmu.” Jawabnya lagi lalu berpaling meninggalkanku sambil menggenggam erat-erat sesuatu -yang terutas dari tas pink yang ia kenakan- di sisi kiri kanan dadanya.
Aku hanya terdiam beberapa saat sambil memandanginya yang berjalan dengan begitu ‘genit’ dari belakang.

Didetik berikutnya, langkahnya terhenti, detik berikutnya -lagi, ia kembali memalingkan wajah kesalnya dengan gaya yang begitu dramatis kearahku. Menyusul seluruh tubuhnya yang berbalik, dan.. melangkah mendekatiku -yang masih terdiam melihat apa yang sedang ia lakukan saat ini dan setelahnya.

“Aku lihat tadi Jong In seperti seseorang yang sedang terburu-buru. Mungkin ia ada janji dengan kekasihnya.”

Tidak ada sebuah jawaban yang kulontarkan padanya, melainkan tatapan -kau cari mati ?!- karahnya terhadap apa yang ia katakan barusan.

“Ah ! Sudahlah ! Ayo kita pulang.” Ajaknya cepat tanpa memperdulikan apa yang baru saja kulakukan padanya.

“Tadi kau bilang kau yang akan meninggalkanku.”

“Baiklah kalau begitu aku deluan.” Dan hal ini terjadi lagi, Hyun Ji memasang wajah kesal lalu berjalan dan kemungkinan akan benar-benar meninggalkanku.

“Tunggu !” Ucapku yang berhasil menghentikan langkahnya dan membuatnya berbalik menatapku lagi.

Dengan santai aku berjalan melewatinya -dan berharap dia mengerti bahwa lebih baik aku yang meninggalkannya- sambil terus berjalan kearah mana yang kumau.

“Ais ! Kau ! Benar-benar !” Gerutunya dibelakangku namun tak kuindahkan.
_______

“Bagaimana dengan Chanyeol ?”

“Kenapa kau menanyakan pria bodoh itu padaku ?”

“Aku tak yakin kau tidak memikirkannya sekalipun. Apa kau tidak merasa bersalah padanya ?!”

“Untuk apa aku memikirkannya ?! Belum tentu dia juga memikirkanku ! Dan, untuk apa aku harus merasa bersalah padanya ?” Jawabku datar -semoga wajahku tak ikut datar saat ini.

“Kau benar-benar tidak punya hati, Hyun Soo !”

“Lalu bagaimana aku bisa hidup seperti sekarang ini jika aku tidak memiliki hati ?!”

“Hey ! Ayolah aku tidak sedang bercanda !”

“Aku tahu !”

“Aggghh ! Park Hyun Soo ! Bagaimana cara aku menjelaskan semuanya padamu agar kau benar-benar mengerti, huh ?!” Ucapnya lesu dengan wajah yang begitu kusut.

“Entahlah !”

“Ayolah, Hyun Soo ! Chanyeol itu pria yang baik. Dia begitu tulus pada seseoang yang benar-benar disayanginya !”

“Darimana kau tahu ?” Tanyaku begitu polos.

“Aku melihat dari perjuangannya selama dua tahun untuk mendapatkanmu ! Apa kau tidak menyadari perjuangannya itu sungguh melelahkan ?! Apa kau juga tidak menyadari dibalik semua tingkah melelahkannya itu tersimpan sebuah ketulusan ?! Kau buta, huh ?!”

Dalam beberapa saat aku hanya terdiam, mencerna satu-persatu setiap perkataan yang diucapkannya tadi.

“Kau benar, kini aku sadar.” Ucapku memecah keheningan setelah berfikir keras kurang lebih satu jam -hanya untuk mencerna perkataan Hyun Ji tadi.

“Kau baru sadar ?!”

“Emm, mungkin iya mungkin tidak.”

“Aku pikir sulit bagi Chanyeol untuk bisa memaafkanmu !”

“Sudahlah ! Aku lelah jika terus-terusan berbicara denganmu ! Aku pergi dulu, Park Hyun Soo !” Hyun Ji lansung pergi membelakangiku dengan wujudnya yang begitu kecewa padaku.

Gila ! Benar-bear gila ! Orang-orang yang dulu selalu didekatku perlahan menjauh dari hidupku. Apa yang harus kulakukan ?!
_____

“Paman, aku ingin satu cup ice cream rasa coklat.”

“Baik nona, silahkan menunggu.”

Kutumpu tubuhku dikursi toko ice cream yang tak jauh dari rumahku. Sambil menunggu pesanan ice creamku, aku menyentuh icon kotak masuk pada ponselku. Masih terpampang koleksi pesan masuk dari Chanyeol disana. Pesan -berisi segala macam hal yang berbau konyol- itu sengaja tak kuhapus, karena dengan melihat pesan konyol darinya itu bisa membuatku sedikit terhibur. Entah sampai kapan aku baru akan menerima pesan konyol darinya lagi.

“Paman, aku ingin dua cup ice cream rasa coklat.” Terdengar suara seorang pria yang juga memesan disebelahku.

Tunggu !
Pria ? Eh, tidak ada masalah dengan apakah dia pria atau bukan. Tapi suaranya ! Suara itu sepertinya pernah kudengar sekilas -meskipun hanya sekilas kudengrar tapi aku mampu mengingat bagaimana suara itu dalam jangka yang cukup lama.

Tanpa ragu, kualihkan pandanganku kearah pria disebelahku itu, dan..

Deg~
Jantungku, tolong diam ditempat sebentar ! Oh ! Apakah aku tidak sedang bermimpi ? Pria itu, ternyata Jong In, yang selama ini begitu kunanti-nantikan. Aku benar-benar terkejut dan tidak menyangka bisa bertemu dengannya langsung seperti ini.

“Park.. Park Hyun Soo ?”

Eh ?! Dia tau namaku ? Baru saja dia menyebut namaku, darimana dia tahu ? Apa selama ini secara diam-diam dia juga mencari tahu tentangku ? Benarkah ? Jika benar seperti itu, siapapun tolong tampar aku sekarang ! Aku takut manakala ini hanya sebuah mimpi.

“Hyun Soo ? Namamu Hyun Soo, kan ?”

“Ya ? Eh, iya namaku Park Hyun Soo. Dan lebih sering dipanggil Hyun Soo.” Jawabku santai yang sebisa mungkin menyembunyikan rasa gugupku dihadapannya.

“Kau ingin membeli ice cream juga ?”

“Iya. Aku membeli dua cup, untukku satu dan satu lagi untuk seseorang.” Jawabnya sambil tersenyum. Sangat tampan !

“Oh. Em, maaf sebelumnya, darimana kau tahu namaku ?” Tanyaku memberanikan diri sambil menampakkan wajah yang begitu ceria -karena sebentar lagi aku akan mendengar sesuatu yang menyenangkan dari mulut Jong In.

“Kau lupa ? Kau mengenakan seragam sekolah hari ini ! Dan, tentu saja aku tahu namamu dari.. dari situ !” Jawabnya begitu datar dan dengan polosnya menunjuk name tag pada seragam yang kukenakan.

Aish ! Bodoh ! Bagaimana bisa aku memakai seragam sekolah ?! Hari ini sudah tidak diwajibkan untuk hadir kesekolah. Sungguh memalukan harus mengalami hal seperti ini dihadapan Jong In !

“Kau mau kemana ? Kesekolah ?” Tanyanya lagi sambil tertawa kecil. Mengejekku ? Bisa jadi !

“Ah ? I-iya. Aku pikir membosankan jika hanya dirumah, jadi mencari udara segar disekolah sepertinya menyenangkan.”

“Benarkah ? Haha, kau lucu ! Benar-benar lucu.” Ungkapnya sambil tertawa lagi.

“Nona ! Ini ice cream pesananmu !”

Untunglah pesananku sudah dapat kuterima, jadi aku bisa sesegera mungkin pergi dari tempat ini.

“Terima kasih, paman.”

“J-jong In, aku deluan. Aku pergi dulu.”

“Ya. Hati-hati.”

Menunduk santun pada Jong In dan paman penjual ice cream itu, lalu sebisa mungkin aku melangkah lebih cepat menjauhi tempat itu.

Aaaa ! Aku yakin Jong In pasti telah menilaiku sebagai seseorang yang aneh. Ais !

Aku memang merasa bosan dan berencana untuk berjalan-jalan, tapi bukan kesekolah tujuanku. Pagi-pagi aku harus sudah bertemu dengan yang namanya sial. Padahal biasanya aku akan frustasi jika bersama Chanyeol. Eh ! Kenapa aku jadi memikirkan Chanyeol ? Apa aku merindukannya ? Oh ! Aku begitu bodoh jika tidak merindukannya, em, lebih tepatnya sedikit merindukanya.
_______

Empat hari lagi upacara perpisahan akan diadakan, namun hari-hariku masih terasa begitu sepi. Tak pernah bertemu Jong In, meski aku telah berulang kali menghampiri toko ice cream -tempatku pertama kali bersapa langsung dengan Jong In- itu. Bahkan aku juga merasa sepi tanpa penghibur gilaku, Park Chanyeol. Pikiran bodoh menguasaiku saat ini. Entah kenapa semakin hari aku semakin merindukan sosok Park Chanyeol yang tak pernah kudengar kabarnya, padahal hanya baru beberapa hari. Tapi aku juga tidak mengerti siapa yang paling kurindukan saat ini, apakah Jong In, atau Chanyeol.
______

“Paman, aku ingin dua cup ice cream rasa coklat.”

Ya ! Kali ini keberuntungan berpihak padaku. Aku akan bertemu dengan Jong In lagi. Aku yakin suara pria yang memesan ice cream itu suara Jong In, meskipun aku duduk membelakanginya sambil asyik menikmati ice creamku. Bahkan sudah kusiapkan catatan panjang sebagai konsep apa saja yang akan menjadi bahan obrolanku dengan Jong In nanti.

Tunggu !
Tapi kenapa Jong In selalu memesan dua cup ice cream ?

“Baiklah, tunggu sebentar ! Akan kuambilkan untukmu dan juga kekasihmu ini.”

Deg~
Kekasih ? Paman itu bilang kekasih ? Aku sedikit menolehkan pandanganku kearah sumber percakapan itu. Tepat sasaran ! Dugaanku tidak salah bahwa paman itu tengah berbicara dengan Jong In. Dan, satu lagi ! Ada seorang wanita. Apa wanita itu yang disebut -kekasih- oleh paman tadi ?

“Ah, terimakasih, paman.” Ucap wanita itu ramah.

“Haha. Jong In kau sangat pandai memilih seorang wanita ! Dia benar-benar wanita yang cocok untukmu !”

Deg~
Jantungku kembali bedegup kencang. Jong In hanya tersenyum menerima pernyataan dari paman itu.
Memperkuat keyakinanku bahwa wanita yang berada disampingnya saat ini adalah benar-benar kekasihnya. Dan.. wanita itu, aku seperti mengenalinya.

-“Ini ! Arloji ini sangat cantik, kau rugi jika membuangnya !”-
-“Sunbae ? Kau sedang menunggu seseorang ?”-
-“Tidak. Tapi aku yang sedang ditunggu kekasihku.”-
-“Namaku Kim Yeo Ra.”-

“Hah ?” Seketika aku tersentak dari lamunanku. Wanita itu, Kim Yeo Ra ? Benarkah ?

Tolonglah, -untuk yang kesekian kalinya- jantungku kembali tak bisa tenang. Bukan karena terkejut bertemu dengan Jong In lagi, tapi sakit yang mulai menyiksa saat tahu dia memiliki kekasih, bahkan aku melihat langsung kekasihnya itu. Haruskah aku menaruh benci pada wanita baik hati itu ?!
Oh Tuhan aku tidak ingin berlama-lama ditempat ini. Tapi tubuhku terasa begitu kaku bahkan posisiku masih tetap memandangi dua orang itu.

“Apa rencana kalian setelah lulus nanti ? Menikah ?” Pertanyaan menyebalkan -yang dilontarkan paman itu pada Jong In dan Yeo Ra- terpaksa harus kudengarkan.

“Tentu saja kami akan menikah. Jong In sudah berjanji akan melamarku.” Jawab wanita yang tak lebih tinggi dariku itu dengan begitu ceria.

“Waa. Benarkah itu, Jong In ?”

“Iya, paman.” Jawab Jong In juga dengan mantapnya sambil tersenyum manis. Tapi senyuman itu, mendadak jadi terlihat begitu menyeramkan.

“Kau tahu, paman ? Jong In rela keluar kelas lebih awal sebelum jam istirahat atau jam pelajaran berakhir.” Ucap Yeo Ra kembali melanjutkan percakapan.

“Benarkah ? Untuk apa ?”

“Karena jam istirahatku lebih awal darinya, jadi terkadang dia membolos dari kelasnya sebelum bel istirahat hanya untuk menemuiku dan kami makan bersama dikantin. Untunglah Jong In bukan siswa yang terbilang bodoh.” Tutur Yeo Ra begitu polos. Sedangkan Jong In, ia hanya tertawa malu mendengar penjelasan tentang dirinya.

“Lalu, kenapa kau jarang ikut dengan Jong In setiap kali ia kemari ?”

“Oh ? Jika seperti itu aku pasti sedang belajar, lalu aku memintanya untuk menemaniku. Dan sebelumnya ia pasti mampir kemari.”

“Terkadang juga Yeo Ra sedang tidak ingin kemana-mana, jadi akulah yang pergi membelikan ice cream untuknya.” Ucap Jong In juga.

Aa ?! J-jadi, selama ini yang membuat Jong In jarang terlihat didepan kelasnya bukanlah karena dia hanya berdiam diri dikelas, melainkan dialah yang lebih awal keluar kelas daripada aku. Dan, cup ice cream yang dia pesankan itu adalah untuk Yeo Ra ? Kupikir aku harus menarik kata-kataku waktu itu, bahwa bukan seorang pria yang menjadi kekasih Yeo Ra yang beruntung, tapi Yeo Ra lah yang beruntung menjadi kekasih Jong In.

Ah ! Tolonglah ! Siapapun bantu aku berlari dari tempat ini, jangan sampai mataku tidak mampu menahan butiran bening yang sudah ingin jatuh ini.

Kuberanikan diriku mencoba beranjak dari tempat dudukku, sedikit melangkah menjauh, dan.. akhirnya aku mampu berlari tanpa memperdulikan mereka lagi. Aku sadar aku belum membayar ice creamku itu. Tapi, sudahlah ! Lupakan saja itu ! Yang terpenting sekarang ini aku harus berlari sekencang mungkin. Aku ingin berlari keujung dunia agar aku tidak melihat Jong In dan Yeo Ra lagi. Aku ingin menghantamkan kepalaku pada apa saja benda keras yang ada dihadapanku untuk bisa melupakan Jong In secepatnya.

Brukk

“Aaw.. Sakiit !” Rengekku sendiri. Kulihat kearah sekeliling -dijalan sepi yang kulewati, syukurlah tidak seorangpun yang melihatku terjatuh. Air mata ini menghalangi pandanganku sehingga aku tak dapat berkonsentrasi saat berlari.

Kenapa ? Kenapa aku harus menangisi Jong In ? Apa aku harus kembali menemuinya lagi untuk menanyakan hal tersebut ? Bodoh !
Ah Sudahlah ! Tidak ada gunanya aku menangisi Jong In. Dia tidak pernah mengetahui perasaanku, dia tidak pernah mengetahui penantianku pada dirinya, bahkan dia juga tidak mengetahui saat ini aku merasakan sakit yang begitu sesak didadaku.

“Aagggghhhhh !” Teriakan terlontar begitu saja dari mulutku. Tak perduli apakah ada atau tidak ada seorangpun selain aku saat ini.

“Hey ! Kau kenapa ?” Sapa seorang pria dibelakangku. Dia sedikit memegang pundakku untuk membantuku berdiri.

“Kau tidak apa-apa ?” Tanyanya lagi.

Suara itu.. apa aku mengenalinya ? I-itu suara seseorang yang juga kunanti-nantikan selama beberapa hari ini.

“Kau tidak mendengarku ? Kau tuli, huh ?!”

“K-kau ?” Tanyaku sedikit gelagapan.

“Cepat bangun ! Kalau berlari tidak usah sambil menangis ! Akibatnya kau terjatuh, kan !”

Eh ? Bagaimana dia bisa tahu kalau tadi aku berlari sambil menangis ?

“A-aku tidak menangis !” Jawabku dingin -menutupi rasa gembiraku karena bertemu dengannya lagi, Park Chanyeol- sambil mengusap air mataku.

“Terserah kau ! Pulanglah dan hati-hati dijalan ! Jika berlari usahakan menggunakan seragam olahraga ! Jika kau berpakaian seperti ingin pergi kepesta seperti ini, hanya akan mempersulit langkah kakimu ! Aku pergi dulu.” Cetusnya yang tak kalah dingin sambil berlalu meninggalkanku.

Huh ! Kau pikir aku akan berkompetisi maraton ?!
Chanyeol~, kau menambah lukaku ! Kenapa kau meninggalkanku disini ?! Kau lebih menyebalkan dari sebelumnya !

“Kau bodoh, Chanyeoollll !” Teriakku sekencang mungkin lalu mengacak rambutku. Ya ! Kali ini aku ‘frustasi’ lagi.
_______

Ah ! Apa-apaan ini ?! Kenapa aku jadi lebih memikirkan Chanyeol dibanding Jong In ? Em, tentu saja ! Tidak mungkin aku mengharapkan Jong In lagi, apalgi jika benar dia akan menikah dengan Yeo Ra. Aku saja yang terlalu bodoh jika masih terus-terusan memikirkan Jong In !

drtt.. drtt..

Eh ? Bunyi apa itu ? Terdengar seperti ponsel yang bergetar. Segera kugapai ponsel yang kuletakkan dimeja belajarku, ternyata benar itu suara poselku yang bergetar diatas meja. Dan.. ada icon bergambar surat disana.

‘Ya ! Pasti pesan masuk dari Chanyeol.’ Benakku yakin.

[Beep] Massage from : 721227

‘Aku Hyun Ji. Kau tidak merindukan sahabatmu ini, huh ?!’

Kyaa ! Ternyata Hyun Ji yang menggunakan nomor ponsel baru. Ais ! Tapi, tak apalah. Aku memang sedikit merindukan sahabatku yang satu ini.

‘Eoh ? Kau ! Aku hampir lupa kalau ternyata kau masih ada. Dan, bagaimana aku bisa menghubungimu lebih dulu kalau kau mengganti nomor ponselmu, bodoh !’

‘Ya ! Ais ! Kau sungguh menyebalkan ! Dan itu, apa kau bilang ? Kau bilang aku bodoh ?! Awas saja kalau kita bertemu nanti !’

Untunglah ada Hyun Ji yang menemaniku -dengan saling bertukar pesan- hingga pada akhirnya aku mulai mengantuk. Setidaknya rasa kesepianku sedikit berkurang.
______

“Park Hyun Soo, buka pintumu ! Ini aku, Hyun Ji.”

Klekk..

“Ada apa ? Kenapa pagi-pagi sekali datang kesini ?”

“Hey ! Siapa bilang ini masih pagi ?! Ini sudah hampir pukul duabelas siang, bodoh ! Masuklah ! Ada yang ingin kubicarakan padamu !” Seru Hyun Ji sambil menggiringku masuk, seolah-olah dialah yang memiliki kamar ini.

“Apa begitu penting ?”

“Tentu ! Ini mengenai Park Chanyeol.”

“A-apa yang terjadi dengannya ?” Tanyaku yang mulai tertarik dengan apa yang akan dikatakan Hyun Ji selanjutnya.

“Tadi aku bertemu Kyung Soo saat sedang berjalan-jalan. Kyung Soo bilang Chanyeol akan segera menikah setelah lulus nanti. Dia bilang Chanyeol juga telah bertunangan.”

“Apa ?!” Mata bulatku seketika melebar mendengar pernyataan itu.

“M-menikah ? Dengan siapa ?”

“Kau bodoh ! Tentu saja dengan seorang wanita !”

Aku hanya menunduk mendengar pernyataan itu. Benarkah yang dikatakan Hyun Ji tadi ? Apa aku harus kehilangan Chanyeol juga ? Ah, tidak tidak ! Mungkin bukan kehilangan,

hanya saja aku tidak akan bisa dekat dengan Chanyeol seperti dulu lagi. Ya, sesudah Jong In, Chanyeol-lah yang selalu mengiasi pikiranku saat ini. Secepat itukah aku bisa melupakan Jong In ? Entahlah karena pada keyataannya memang seperti itu.
______

“Aiss ! Kau bodoh, Chanyeol !” Pekikku sendiri. Lagi-lagi aku frustasi mengingat apa yang dikatakan Hyun Ji kemarin.

Kupandangi layar ponsel yang ada digenggamanku saat ini, haruskah aku yang memulai mengirimkan pesan pada Chanyeol ? Bagaimana jika dia tidak memperdulikan pesanku ? Bagaimana jika dia tidak membalas pesanku ? Bagaimana jika dia benar-benar marah padaku ? Bagaimana jika dia jengkel menerima pesan dariku sehingga ia membuang ponselnya ? Bagaimana jika setelah itu dia langsung mengganti nomor ponselnya ? Lalu ?

“Aghhhh ! Aku tidak perduli !”

[Beep.. Beep..]
‘          ‘
Massage sent to : Sibodoh Yeolie

Meskipun hanya pesan kosong yang kukirimkan padanya, tapi aku juga mengharapkan balasan.

drtt.. drtt..

Yayy ! Dia membalasnya.

Massage from : Sibodoh Yeolie

‘Apa ? Kau merindukanku, huh ?!’

Ya ? Hanya seperti itu balasannya ? Ais !

‘Aku ingin bertemu denganmu !’

Massage sent to : Sibodoh Yeolie

Aku memberanikan diri untuk mengajaknya bertemu. Kuharap dia tidak menolak.
______

Ah, aku baru sadar bahwa tempat ini benar-benar indah. Tempat saat Chanyeol mengajakku berkencan, juga menjadi tempat pertama kalinya aku melihat seorang pria menangis -karena aku. Danau, danau ini-lah tempat tersebut.

“Ada apa ?” Terdengar suara berat seorang pria dari belakangku -yang tengah duduk dibangku dekat danau itu.

“Kau lama sekali, bodoh !”

Tanpa memperdulikan omonganku, Chanyeol melangkah dan duduk disampingku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit lebih tenang berada disampingnya.

“Kenapa kau menyuruhku kemari ? Apa kau memang merindukanku ?” Tanya-nya santai.

“Huh ? Kau masih saja bersikap terlalu percaya diri !”

“Baiklah, kalau begitu aku akan diam saja.

Hening. Aku dan Chanyeol masih berada dalam suasana hening.

Beberapa saat kemudian, aku berniat untuk memulai pembicaraan. Aku mencoba memberanikan diri !

“P-park.. Chanyeol ?”

“Hm ?”

“Ada yang ingin kutanyakan padamu !”

“Apa ?”

“Tapi, kumohon jawab dengan jujur !”

“Akan kuusahakan !”
Jawaban yang tak kuharapkan dilontarkannya begitu saja.

“Jangan hanya sekedar diusahakan ! Tapi aku ingin kau menjawab dengan sejujur-jujurnya !”

“Atau tidak akan kujawab sama sekali !” Tegasnya yang kini memalingkan wajahnya hingga menatap mataku. Mata yang benar-benar indah. Tapi, mendengar jawabannya -yang begitu menjengkelkan, membuatku tertunduk tak berani memandang mata indah itu. Aku hanya menginginkan jawaban jujur darinya atas pertanyaanku nanti.

“Cepat katakan apa tujuanmu menyuruhku datang ketempat yang membosankan seperti ini !” Ucap Chanyeol kemudian setelah memalingkan wajahnya lagi. Terdengar sedikit membentak.

 

Apa dia mulai memperlihatkan kebenciannya padaku ? Apa benar yang dikatakan Hyun Ji bahwa Chanyeol akan sulit untuk mau memaafkanku ? Apalagi jika benar dia telah bertunangan.
Tolongah ! Mataku mulai memanas. Aku takkan mampu jika harus berlama-lama menahan air mata yang sedari tadi dengan susah payah kubendung.

“K-kumohon.. Jawablah sejujurnya !” Pintaku lirih.

“Baiklah jika itu maumu ! Tapi jangan membuat waktuku terbuang begitu saja karena harus berbicara dengamu !” Tegasnya sekali lagi. Suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Tak bisakah aku mendapat kelembutan seorang Park Chanyeol yang dulu lagi ?

“A-apa benar.. k-kau.. telah berunangan ?”

“Bahkan setelah lulus aku akan segera menikah.” Jawabnya mantap -namun dengan ekspresi yang begitu santai.

Tak dapat kupungkiri bahwa kini setetes air mataku tengah meluncur lurus dipipiku. Kuharap Chanyeol tak melihatnya.

“Sudah kujawab, dan itu adalah jawaban yang sejujur-jujurnya. Jadi, aku harus pergi sekarang !” Ucapnya -lagi- dan seketika beranjak pergi meninggalkanku.

“Yeolie, k-kumohon tunggu sebentar !”

“Huh ?! Apalagi ?! Aku sungguh sedang terburu-buru !” Ucapnya dengan begitu kesal, namun langkahnya dapat kuhentikan dan berbalik menghadapku lagi.

“Kau.. kau benar-benar marah padaku ?”

“Menurutmu ?!”

“Jadi kau tidak mau memaafkanku, huh ?!”

“Apa kau merasa pernah meminta maaf padaku ?! Apa kau sudah menyadari semua sikap tidak baikmu padaku ?! Apa kau sudah menyadari semua kesalahanmu padaku ?! Dan apakah semua itu sudah kau lakukan termasuk meminta maaf padaku ?!” Bentak Chanyeol dengan begitu sinis.

Aku hanya tertunduk. Emosinya mencuat.
Takut, aku takut menatap seperti apa wajahnya itu jika sedang dalam keadaan marah.

“Huh ! Sudahlah ! Tidak ada gunanya untuk berbicara padamu, membuat waktuku terbuang begitu saja !”

“Aku memang belum meminta maaf padamu. Tapi setidaknya berilah aku kesempatan !”

“Apa katamu ?! Kesempatan ?! Sudah terlambat ! Ah, sudahlah ! Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Lebih baik aku pergi sekarang juga.” Ucapnya yang kembali akan meninggalanku.

“Apa yang membuatmu begitu terburu-buru ?”

“Aku ada janji dengan kekasihku. Dan, kau tahu ? Karna kau memintaku untuk datang kemari aku jadi terlambat ! Menyusahkan saja !”

Tes~
Air mataku terjatuh lagi. Dia benar-benar pergi, pergi dari tempat ini. Setega itu kah dia hingga meninggalkanku sendiri ?

Chanyeol begitu yakin dengan perkataannya. Bahkan aku pun yakin dengan jawabannya tadi itu benar-benar jujur.

Tunggulah sebentar, Chanyeol ! Ada yang ingin kukatakan padamu ! Apa kau tidak ingin mendengarkannya ? Apa kau sudah tak ingin berbicara denganku lagi ? Sebenci itukah kau terhadapku ? Aku merindukan sisi kelembutanmu yang selama ini kusia-siakan, Park Chanyeol. Aku merindukanmu.
______

Aku masih duduk dikursi kecil dekat danau itu. Entah berapa banyak sudah tetesan air mata yang mengalir begitu saja dipipiku. Tak seorangpun ada disini. Pria jangkung itupun tak kunjung kembali setelah hampir satu jam meninggalkanku.

Aku merasakan sesak yang luar biasa. Sakit, sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya -bahkan sakit ini melebihi rasa sakitku saat melihat Jong In dan kekasihnya. Sakit yang kurasakan saat ini bukanlah karena Chanyeol melakukan tindak kekerasan sebelum meninggalkanku tadi, hanya saja aku merasa hatiku dicabik, diinjak, dan disayat-sayat. Sedikit berlebihan memang, tapi.. bagaimana jika memang seperti itu yang kurasakan saat ini ?
______

Hampir dua jam sudah. Aku dapat merasakan mataku yang mulai membengkak karena isak tangis yang terus menemaniku.

Park Chanyeol, Aku benar-benar menyesal atas perlakuanku selama hampir dua tahun belakangan ini padamu. Kumohon maafkan aku. Hiks.. aku membutuhkanmu, Chanyeolie. Kumohon kembalilah. Hiks..

Isak tangisku semakin menjadi-jadi. Sepi, tempat indah ini benar-benar sepi. Aku masih terus memikirkan Park Chanyeol yang tak juga datang menemuiku lagi.

_______

 

Grep..

Tak kusangka tubuh jenjang seseorang merengkuhku dari belakang. Wangi tubuhnya dapat kukenali dari kedua lengan yang melingkar dileherku. Dapat kupastika bahwa seseorang yang berada dibelakangku saat ini bertubuh bongsor.

“Kau menangis ?” Tanyanya.

Suara itu, suara berat seorang laki-laki yang selalu kunanti-nantikan.

Kutolehkan wajahku kesumber suara itu. Sedikit terkejut saat melihat laki-laki itu adalah benar-benar.. Park Chanyeol.

“C-chanyeol ?”

“Iya, chagi. Ini aku, Park Chanyeol.”

Apa ? Apa dia bilang ? Dia memanggilku dengan sebutan ‘chagi’ lagi ? Apakah aku tidak salah dengar ? Tapi aku tidak tuli !

“Hey ! Lihatlah wajahmu ! Kau sangat jelek dengan tampang kebingungan seperti ini.” Ejeknya.

Sangat menyebalkan ! Tapi, hal itulah yang kurindukan darinya. Sikapnya yang begitu ceria, tanpa perlakuan dingin yang membuatku muak dan begitu terluka.

“Kenapa kau diam saja ? Kau tidak percaya kalau aku ini Park Chaneol ?! Baiklah !”

Chanyeol melepas rangkulan tangannya lalu melangkah untuk duduk disampingku.

Aku kembali menangis. Tak percaya dengan sikapnya yang berubah-ubah seperti itu.

“Sudahlah ! Hapus air matamu ini ! Maaf, karena aku telah membuatmu menangis dan terlihat begitu buruk rupa seperti ini. !” Ungkapnya santai sambil mengusap air mataku.

“Kau.. B-benarkah kau telah bertunangan ?”

“Itu tidak benar ! Sejujurnya aku hanya berbohong padamu ! Aku hanya baru memiliki calon tunangan !”

“A-apa ? Siapa lagi calon tunanganmu ?”

“Kau tak perlu tau ! Yang harus kau tahu, tadi itu aku sedang mengujimu !”

“Menguji ? Maksudmu ?”

“Hyun Ji bilang kau terus memikirkanku dan menantikan kehadiranku beberapa hari belakangan ini, dan aku ingin memastikannya sendiri dengan cara mengujimu seperti tadi !” Ujarnya santai dengan wajah polosnya yang begitu menyebalkan.

“K-kau ?”

“Iya ! Aku telah membelikan lima cup ice cream Hyun Ji dan menyuruhnya untuk berbohong padamu bahwa aku telah bertunangan, aku juga mencoba bersikap sedikit kasar dan tidak baik padamu, dan terakhir aku mengujimu dengan cara membiarkanmu menungguku sendirian selama hampir dua jam ditempat ini. Aku fikir kau hanya akan bertahan kurang dari satu jam, ternyata kau mampu lebih dari waktu yang telah kutetapkan. Dan kau tahu ? Kau kuanggap lulus ujian itu !”

Gila ! Jadi dia memberi pelajaran padaku ? Dia mengujiku ? Sungguh menyebalkan ! Rasanya ingin kutarik sekencang mungkin hidung mancungnya itu. Meskipun aku sedikit tenang saat dia bilang aku lulus dari ujian konyol yang ia berikan.

“Aku tahu ini menyebalkan. Salahmu sendiri berdiam diri dikursi ini. Dari tadi aku juga menjagamu dari belakang, tapi kau tidak menoleh sama sekali ! Aku fikir kau telah mati !”

Huh ! Jawaban yang amat sangat menyebalkan dilontarkannya begitu saja padaku. Sungguh inilah puncak kefrustasianku.

“Kau benar-benar gila, Park Chanyeol !”

“”Kau tega mengatakan orang yang menyayangimu ini gila, huh ?!”

Apa ? menyayangiku ? Chanyeol menyayangiku ? Eh, tidak tidak ! Maksudku, Chanyeol masih menyayangiku ?

“Baiklah, jika aku tidak mengatakanmu gila kau berjanji untuk tidak akan pernah berhenti menyayangiku !”

“Bahkan tidak kau minta pun aku sanggup, chagi !”

“Benarkah ?”

“Hm !” Jawabnya riang sambil membuat V sign dari jari-jari manisnya.

“Kalau begitu ada yang ingin kukatakan padamu, Tuan Park !”

“Apa ?”

“A-aku.. Aku hanya ingin mengatakan..” Ucapku gelagapan.

“Apa ? Cepat katakana !”

“Aku hanya ingin mengatakan.. AKU MENCINTAIMU !”

“B-benarkah ? Kau sungguh-sungguh ?”

“Aku bersungguh-sungguh, bodoh !”

“Baiklah aku percaya ! Hm.. Kalau begitu mari kita ,menikah !” Ucapnya enteng.

“Eh ? Kita belum merayakan upacara perpisahan ! Dan yang terpenting kau belum mendapat izin dari calon ibu mertuamu !”

“Em.. Kau benar juga. Kalau begitu aku akan menciumuu. Menciummu tak harus menunggu upacara perpisahan dan juga tak harus mendapat izin dari calon mertuaku, kan ?!”

“Memang ! Tapi harus mendapat izin dariku !”

Chu~

“Eh ?! Chanyeol.. menciumku ? Aku belum memberikan izin padanya ! Seberani itukah dia ? Ah.. Lagi-lagi kau membuatku frustasi, chagi !

Tapi tak apalah,. Yang jelas sekarang kau bukanlah sibodoh yang terus mengagguku lagi, melainkan sibodoh yang akan membuatku terus merindukanmu. I Love You, Park Chanyeol !

Puk~

“Kyaa ! Kenapa kau memukul kepalaku, chagi ?”

“Kau kan belum mendapat izin dariku untuk menciumku !”

“Apa itu harus ?”

“Tentu !”

“Huh ! Kau menyebalkan !

“Apa katamu ?”

“Kau menyebalkan ! Sangat sangat menyebalkan ! Tapi aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa begitu mencintai wanita semenyebalkan dirimu. Yah ! Tapi inilah aku. Aku tetap mencintaimu tak perduli kau begitu menyebalkan, kau begitu buruk rupa saat kau menangis, apalagi saat kau marah, oh ! Itu sangat menakutkan dan menyeramkan bagiku ! Dan.. apalagi ? Kau ingin menambahkan ?” Ucapnya santai.

Apa ?! Kau membongkar semua keburukanku, Park Chanyeol ?! Aku benar-benar tidak taham lagi ! Awas kau, pria gila !

“Dan.. Eoh ! Satu lagi, kau benar-benar seperti orang bodoh saat berdiam diri selama dua jam hanya untuk menungguku seperti tadi, chagi !”

“PARK CHANYEOOOLLLLLL !”

Plak.. Bak.. Buk.. Bak.. Buk..

 

-EnD-

 

—oOo—

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s