LOTUS (1.1)

Lotus

Original Story by Amzalov22 (Blamperouge)

repost dari Aff

happy Reading ^^

1.1

Yang kulihat pada cermin hanya bayangan sesosok perempuan dengan balutan gaun brook green selutut berenda gelombang di ujung roknya. Rambutnya di kaitkan kebelakang telinga dibantu sebuah jepitan kecil berwarna senada dengan gaunnya. Tak nampak ada senyum diwajahnya, hanya ekspresi datar yang begitu meremehkan dirinya sendiri. Ah, dia menyerangai sambil memiringkan sebelah kepalanya, membiarkan rambut di sisi lain wajahnya menjuntai menutupi pipi.

 

Aku baru saja menggambarkan diriku. Yah, karna hanya akulah satu-satunya orang yang saat ini berhadapan dengan cermin. Akulah yang sedang menyerangai, mengingat bagaimana menyenangkannya hari-hari yang kulalui. Semua nampak sempurna, seperti perpaduan warna langit dan awan kala matahari terik menguasainya. Aku meyukainya dengan caraku sendiri.

 

Aku jadi teringat buku tentang sebuah tanaman air yang dulu kutemukan di perpustakaan. Disana tertulis dengan jelas, Lotus si saudaranya Teratai adalah bunga indah dengan filosofi yang hebat. Dia akan tumbuh begitu cantik dan semakin cantik sementara lingkungannya buruk. Dia akan menarik perhatian siapapun yang melihatnya mengabaikan berkubik-kubik air bercampur lumpur ditempatnya tinggal. Sederhananya, tumbuhan itu akan tetap indah tanpa terpengaruh pada keadaan lingkungannya yang kotor.

 

Melihat itu, aku mulai membayangkan diriku berada di posisi bunga Lotus. Aku Amber Josephine Liu, putri kedua keluarga bangsawan Liu yang terkenal. Aku hidup di lingkungan yang tidaklah bagus. Maksudku, bukan seperti aku tidak bersyukur menjadi seorang putri bangsawan, hanya saja, kalian tidak tahu betapa mengerikannya keluargaku. Keluargaku itu lain, keluarga ini agak berbeda. Kalau biasanya orang tua mendongengkan anaknya sebelum tidur, mengantar dengan cerita-cerita menyenangkan seperti putri dan pangeran, atau rakyat jelata yang baik hati, maka tidak begitu dengan keluargaku. Ibu di keluarga ini membawa cerita penghantar tidur dengan cerita nyata yang menurutnya membanggakan tapi menurutku tidak lebih dari orang yang sedang membongkar dosa keluarganya.

 

Aku sungguh tidak peduli.

 

Kalau pada cerita-cerita ada tokoh antagonist dan protagonist, maka aku menjadi tokoh pada pilihan pertama. Jika dalam dongeng Cinderella dan Putri Salju maka aku ada dipikah ibu tiri mereka, jika pada dongeng Putri Tidur dan Putri Duyung maka aku berada di pihak si penyihir. Kalaupun aku ada dalam dongeng Gadis Bertudung Merah dan Tiga Babi Bersaudara maka mungkin saja aku jadi serigalanya. Begitulah aku yang dibesarkan oleh keluargaku.

 

Ayah adalah anak tiri dari tiga bersaudara. Pengasuhku bilang, ayah hanya mengambil haknya sebagai panerus keluarga ini, menggantikan pamanku yang menjadi putra pertama. Pamanku yang seharusnya menggantikan kakek memimpin keluarga ini meninggal sebelum ia benar-benar melaksanakan tugasnya. Ayah kemudian menggantikannya, menjadi pemimpin dalam keluaga. Ia dikenal dengan kepemimpinannya yang hebat. Itulah yang orang luar katakana Karena mereka takut dengan keluargaku.

 

Nyatanya aku tahu seberapa buruk ayahku. Dia menakutkan, seperti bagaimana dia membuang perasaannya dan mengusir ibu tirinya alias istri pertama kakek. Ia bahkan rela menghukum siapa saya yang membuatnya kesal, menghancurkan hidup para pelayan yang menentangnya, hingga membuat peraturan baru dalam keluarga sesuai dengan kehendaknya. Dia jualah yang menghapus sisa-sisa kenangan penerus sebelumnya. Dan aku juga tahu, kalau ayah yang membunuh pamanku agar bisa menduduki singgasananya. Oh ayolah, semua orang tahu kenyataan itu, mereka hanya terlalu takut mengakuinya.

 

Dia menakutkan bukan?

 

Lingkungan tempat tinggalku memang tak biasa. Menjadi putri bangsawan bukanlah sesuatu yang bisa membuatku senang dan berbangga diri. Aku bukan pula tipe putri baik-baik. Ingat Lotus yang kugambarkan sebagai diriku? Dia menjadi cantik di lingkungan kotor, bukan berarti dia tidak kotorkan? Maksudku, kalau memang dia secantik dan semenarik itu, kenapa dia tidak membuat air dan lumpur juga menjadi seindah dirinya? Kenapa ia tidak menjadikan lingkungannya indah saat ia ada disana? Padahal kalau dilihat, pada siapa akarnya tertancap? Pada siapa ia mengambang? Air dan lumpur bukan? Nyatanya Lutus hanya sebuah tanaman yang egois dan munafik. Begitulah aku sebenarnya.

 

Aku masih 17 tahun saat ini. Aku belum di libatkan dalam hal-hal berbau meningkatkan derajat kebangsawanan. Masih ada setahun sisa waktuku saat ini. Kalau nanti tiba waktunya, mungkin aku bukanlah bunga Lotus yang indah di atas air kotor, tapi aku akan menjadi Lotus yang melepas tiap kelopak bunganya dan bercampur menjadi bagian yang air kotor. Asal kau tahu, tak sedikitpun niatku membiarkan kelopak bungaku berjatuhan di atas air, menerima bagaimana aku menjadi bagian mengerikan dari keluarga bangsawan. Itu artinya, entah setahun, dua tahun, dan bertahun-tahun nantinya aku takan membiarkan diriku terlibat dalam kekotoran keluargaku. Aku akan menjadi seegois bunga Lotus dalam mempertahankan keindahannya, sebab aku punya genangan air dan lumpur yang bisa kumanfaatkan.

 

“Nona,” pengawal setiaku memanggil. Aku menengok padanya memberikan seulas senyum sebelum mengangguk, berjalan mendahuluinya.

 

Aku salah menghitung jika sebelumnya aku menyebut waktuku tinggal setahun lagi sebelum dilibatkan dalam rencana-rencana politik ayah. Sebenarnya aku punya sekitar 8 bulan saja. Hari ini adalah hari dimana aku mulai disiapkan masuk dalam dunia mengerikan itu.

 

Pertemuan dengan putra ketiga dari keluarga bangsawan lainnya. Keluarga dari negeri seberang yang cukup jauh dari tempatku. Mereka setuju akan bekerjasana dengan keluargaku hanya untuk meningkatkan kekayaan mereka. Tujuan mereka sama, memuaskan napsu untuk menjadi yang paling dan paling unggul dari yang lainnya. Wujud dari kerja sama itu salah satunya, membuat sebuah hubungan antar keluarga, dalam arti lain menjodohkanku dengan sorang pemuda kaya dari sana. Pernikahan politik, yang akan diwujudkan saat aku sudah berusia 18 tahun.

 

Aku sampai di ruang penjamuan. Ada banyak orang asing disana yang menatapku dengan pandangan berbeda. Meja penuh diisi dengan berbagai jenis makanan, minuman, dan jamuan lain untuk para tamu. Sinar redup dari lampu bercampur dengan cahaya yang berusaha masuk melalui jendela.

 

Aku berjalan mendekat, langsung mencium aroma wewangian yang menyejukan dari pengharum ruangan. Para pelayan langsung memanduku untuk duduk di antara ayah dan istri pertamanya. Di sebelah dua orang dewasa yang mengapitku ada dua kakak lelakiku. Di pintu pertemuan banyak pengawal dari kedua belah pihak, disana juga aku menemukan keberadaan pengawal pribadiku. Hanya sampai itu aku melihat orang-orang tak asing bagiku, sampai pada garis berikutnya aku tak mengenal siapapun lagi.

 

Seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan pakaian rapi paduan warna nevi dan royal blue tersenyum kearahku. Sama sepertiku, dua orang dewasa berbeda jenis kelamin duduk mengapit dirinya. Aku bisa memastikan dialah calon tunanganku. Manik matanya sebiru langit cerah terus mengarah padaku memaksaku untuk mengakui kalau matanya sangat indah. Tak ada kata lain untuk menggambarkan dirinya keculai sosok yang sempurna.

 

Pembicaraan keluarga itu dimulai begitu masing-masing pihak utama membuka dan mengenalkan dirinya. Aku tak berniat mengambil bagian dalam bicara. Seperti yang ibu tiriku perintahkan sebelum pertemuan ini, aku hanya perlu mengiyakan semua pertanyaan dan pernyataan yang dijukan padaku. Mereka tidak berpikir akan menerima pendapatku. Pernikahan aku dan dia pasti terjadi, tak perduli satu di antara kami setuju atau tidak.

 

Aku tidak setuju.

 

Meski lelaki itu sempurna, tapi tak sedikitpun bagian dari dirinya yang membuatku tertarik. Dia dimasa depan pasti akan menjadi seperti salah satu bangsawan sombong berlapis senyum manis kebohongan. Kalau melihat wajahnya yang tampan, sudah pasti dia bukan tipe orang yang akan mau memiliki satu istri saja. Mungkin sedikitnya dia akan punya tiga seperti ayahku saat ini. Tipe menyebalkan.

 

Aku ditinggalkan bersamanya di ruang pertemuan. Para pengawal juga tak disisakan satupun dalam ruangan. Hanya ada aku dan dia bersama beberapa makanan penutup di atas meja. Dia tak sedikitpun menyentuh makanannya dan malah terus melihat kearahku. Mungkin, dia sudah terikat dengan pesonaku. Tidak buruk, tapi menyebalkan.

 

“Kamu lebih cantik dari yang kubayangkan,” dia bersuara.

 

Aku hanya menyungingkan senyum semanis mungkin. Berusaha ramah saja meski sebenarnya hatiku menolak. Yang kuingat namanya Minho Choi. Ada beberapa hal istimewa tentangnya yang di jelaskan keluarganya tadi saat pertemuan tapi aku tidak mengingat satupun. Lagipula untuk apa? Untuk menjadi wanita penggoda agar pernikahan kami berjalan dengan lancar? Oh yang benar saja. Aku berjanji pernikahan ini tidak akan pernah jadi nyata. Teruslah bermimpi Choi Minho.

 

Biasan cahaya dari luar terasa lebih terdang dari sebelumnya. Aku meletakan sendok makanan manis yang tadinya kumakan. Dari ujung mataku aku hanya memastikan apa dia masih melihat kearahku atau tidak, dan nyatanya dia masih disana. Masih melihat kearahku dengan senyum menyebalkan diwajahnya. Aku menarik mundur bangkuku kemudian berdiri, memberi bungkukan ringan padanya sebelum melepas kalimat ringan yang menandakan aku ingin segera pergi dari ruangan itu. Sayangnya, lelaki tampan itu tidak mengerti keadaan.

 

Aku berakhir dengan berjalan bersama Choi Mindo di sepanjang jalan berbatu dengan pagar hidup. Kami berjalan, mencoba menjadi lebih akrab dengan berbincang ringan. Taman di kediamanku memang bukanlah satu-satunya tempat indah yang kukenal. Tapi Kadang, tempat dengan perpaduan warna hijau, coklat ranting, dan bunga-bunga adalah penyejuk hatiku. Harap-harap aku bisa sedikit saja melepas rasa tidak sukaku pada lelaki yang berjalan disampingku, tapi sepertinya itu takan mudah.

 

Aku ingin hari panjang nan membosankan ini segera berakhir. Lelah diikuti lelaki yang terus-menerus mencari perhatian. Jadi aku memberi kode pada pengawal setiaku untuk mencari kebongongan, agar aku bisa menjauh darinya.

 

“Nona, Anda melupakan les piano Anda.”

 

Sejak kapan aku ada les piano. Tapi kebohongan itu cukup bagus hingga aku bisa berlari pada pengawalku dengan anggun, tak lupa berpamitan dengan tunanganku. Setidaknya, aku selamat hari ini. Ingatkan aku mencari kebohongan lain saat ada jadwal bertemu Choi Minho di hari lain.

 

. . .

 

Kain tipis yang berdelombang tertiup angin dari jendela. Kamarku adalah tempat lain yang memberiku rasa tenang. Aku mendesain sendiri kamar mewah ini, memutuskan warna dinding dan interiornya. Aku selalu suka warna ivory-tan bila dipadukan interior dengan warna yang lebih gelap seperti mustard-saddle brown. Itu membuat ruangan empat belas meter persegi ini mengalahkan suasana tenang occean dan sky blue, atau bahkan suasana full green di taman belakang rumahku.

 

Aku menghirup udara sebanyak yang paru-paruku butuhkan. Duduk di tepian ranjang dengan wajah yang terus ditekuk bercampur dengan rasa lelah. Bertemu putra ketiga keluarga Choi benar-benar menghancurkan moodku. Rasanya, aku ingin hari seperti ini tidak akan datang lagi.

 

“Kau tidak menyukai lelaki itu?” Seseorang di belakang pintu kamarku yang tertutup bertanya hal yang jawabannya pasti sudah terjawab dari ekspresiku saat bersama Choi Minho tadi.

 

Menjadi seorang anak bangsawan membuatku hanya memiliki sedikit ruang dalam bergaul. Aku bahkan tidak diijinkan banyak bermain dengan saudara tiriku yang lain. Sebenarnya, keluarga inilah yang terlalu mengekang kami. Di saat aku butuh seorang teman, maka pengawal setiaku akan ada bersamaku.

 

Dia Kim Jonghyun. Lelaki yang lebih tua sekitar 6 tahun dariku. Dia akan jadi satu-satunya sosok yang mengerti diriku. Dia juga rela melakukan apapun yang kuminta, sekalipun itu hal buruk, ia rela melakukannya hanya untukku. Alasannya hanya satu, dia sangat menyayangiku karena kami sebenarnya saudara satu ibu.

 

Ibuku dulunya adalah pelayan di keluarga Liu. Beliau janda beranak satu, pertama kali bekerja di kerajaan saat umur Jonghyun 4 setengah tahun. Dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang orang tua tunggal, tapi tidak ada yang bisa memaksa keadaan saat pendamping hidupmu harus di panggil yang Kuasa. Kudengar dari pengasuhku, ibuku itu wanita yang baik dan penyayang, melakukan tugasnya tanpa mengecewakan siapapun, dan dikenal dengan kecantikannya yang bisa membuat siapa saja tercengang. Ayahku tertarik pada ibuku lalu mulai mendekatinya, menjalin hubungan secara rahasia dan akhirnya ibu mengandungku. Ayah tidak menikahinya, karena ibu hanya seorang pelayan. Menikahi ibu sama saja dengan menurunkan drajat keluarga ini. Ibu sungguh wanita yang malang, diusir dari kerajaan tepat setelah sebulan melahirkanku.

 

Aku di besarkan di kerajaan, menjadi putri bangsawan karena darah ayah mengalir dalam tubuhku. Keluarga ini tentu tidak benar-benar menyayangiku. Aku hanya anak haram dari pemimpin keluarga ini, dan keberadaanku tidak lebih dari senjata bisnis ayah. Perkawinan polotik yang akan kujalani misalnya. Apalagi, di keluarga ini akulah satu-satunya anak perempuan. Selagi aku memiliki darah bangsawan, aku berhak menjadi putri dalam keluarga ini.

 

Sejujurnya aku tidak benar-benar mengenal Kim Jonghyun kakak satu ibuku itu. Dia datang kekerajaan dan meminta menjadi pengawalku saat aku berumur 14 tahun. Dari ceritanya, dulu saat ibu mengandungku Jonghyun sangat senang dan begitu menanti kehadiranku. Tapi dia terlalu naïf untuk bisa tumbuh dan bermain bersamaku. Waktu yang ditunggunya menjadi sia-sia, kami dipisahkan oleh keluarga ayahku. Ibu bersamanya kembali menjadi warga berstatus social rendah dan aku lebih beruntung dari itu. Saat berusia 12 tahun ibu meninggal tanpa diketahui satu pihakpun dari keluargaku, atau mereka sebenarnya tahu tapi menutup telinga mereka masing-masing.

 

Semenjak itu, Jonghyun terus belajar agar mampu menjadi pekerja dari keluarga ini. Setelah ibu meninggal, Jonghyun merasa akulah satu-satunya keluarga yang dia punya. Seolah, aku mulai menjadi tujuan hidupnya. Kemudian dia akhirnya berani bersumpah atas nama keluarga besarku, bahwa ia akan setia melindungiku dan menjadi pengawal pribadiku.

 

Aku menghargai segala hal yang ia lakukan. Keberadaan Jonghyun sendiri berhasil mengatasi rasa sepiku selama ini. Anak tiri ya anak tiri, tidak ada yang menyayangiku disini, terutama saudara seayahku. Aku hanya seseorang asing yang kebetulan memiliki separuh darah yang sama dengan mereka.

 

Sepanjang hidupku di keluarga ini, aku hanya melaluinya bersama pengasuhku. Begitu umurku 14 tahun, Jonghyun datang. Ia benar-benar berhasil membuatku nyaman berada di keluarga ini. Seperti, pada akhirnya kau mendapatkan orang yang sangat menyayangimu di antara orang-orang asing disekitarmu. Walau pada awalnya ia terasa asing, tapi aku bersyukur ia ada untukku.

 

“Oppa,” kupanggil ia pelan sambil berisyarat untuk duduk disampingku.

 

Ia menghampiriku. Meninggalkan wajah kakunya (wajah khas para pengawal) di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Duduknya ia disampingku membuatku segera melanjutkan kalimatku.

 

“Apa menurutmu, aku harus menikahi lelaki itu?”

 

“Apa kau menyukainya?”

 

“Dia terlihat seperti jiplakan ayah dan ayahnya, tipe orang yang mementingkan harta di atas segalanya,” aku menjelaskan, memberi jeda sebentar sebelum kembali melanjutkan. “Aku tidak suka orang seperti itu. Seolah, hidupku hanya akan berputar pada kisah kebangsawanan yang menyebalkan ini.”

 

“Jadi kau berniat menikahi lelaki non-bangsawan?”

 

Raut wajahnya lembut setiap menanyakan hal-hal yang menyangkut masa depanku. Aku mulai merasakan kasih sayangnya setiap kali kami membicarakan hal-hal semacam ini. Dia pastilah ingin yang terbaik untukku, aku tahu. Dia benar-benar kakak yang sesungguhnya untukku.

 

“Bukan begitu, aku hanya ingin lepas dari orang-orang yang terobsesi dengan kekayaan, kedudukan, atau apalah itu. Apa kau senang melihat adikmu ini menjadi istri orang menyebalkan semacam itu?”

 

“Aku akan senang kalau kau juga senang,” Dia memberi jawaban yang membingungkan. Jadi apa menurutnya, kalau aku senang menikahi Minho dan Minho jenis lainnya, menjadi istri “bangsawan”, dan akhirnya menjadi wanita menyebalkan, Jonghyun akan senang selama aku juga senang? Bagaimana kalau aku hanya pura-pura senang dan menyembunyikan perasaan itu darinya?

 

Aku cemberut mengundangnya untuk tertawa nyaring. Tapi tak sampai satu menit suara tawanya reda, hanya meninggalkan gaya tawa dalam diam. Pengawal dan pelayan harus menghormati tuan mereka, pasti Jonghyun terjebak oleh peraturan itu. Kami memang saudara seibu, tapi kami juga tuan dan pengawal. Jonghyun memang kuberi ruang lebih banyak saat berada di sekitarku atau saat berdua saja denganku, tapi begitu dengan orang lain ia akan memasang wajah datar khas pengawal miliknya. Dan kalau tawa tadi dibiarkan lebih lama, kalau ada pelayan dan mendengar, kemudian mengadukannya pada ayah maka Jonghyun mungkin akan diberi hukuman. Hukuman dalam keluagaku ditaklah kecil semacam di tegur atau potong gaji atau semacamnya. Sekecil apapun kesalahan, ayah tidak akan tanggung-tanggung langsung mengusir mereka dari kediaman kami.

 

Orang semacam kalian aku bisa menemukannya banyak di luar sana, jadi bekerjalah dengan baik.” Lelaki tua itu akan berterian, memaki dengan penuh tenanga pada pekerjanya.

 

Meski aku hanya seorang anak haram, tapi peraturan tuan dan pengawal tetap berlaku.

 

“Apapun pilihanmu, aku akan terus mendukungmu. Kau yang akan menjalani hidupmu dengan lelaki manapun yang kau pilih, jadi siapapun itu, kalau itu pilihanmu aku akan senang untukmu. Kalau kau tidak suka dia, aku juga tidak akan suka.”

 

Ia memberi sentuhan pelan dan penuh kasih sayang pada pucuk kepalaku. Dia benar-benar kakak yang sesungguhnya. Seperti yang kubilang sebelumnya, keberadaan Jonghyun seperti sebuah kasih sayang yang akhirnya kudapatkan. Dia berharga, sangat berharga untukku. Tapi kadang kala, aku begitu egois dan hanya memanfaatkan rasa sayangnya padaku.

 

Setangkai Lotus yang hidup di air bercampur lumpur yang kotor. Sepertinya, aku hanya gadis egois yang selalu mementingkan hidupku di atas orang lain. Kalian akan mengerti itu nanti.

 

Tbc~

Words 2543

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s